Apakah Hukum Sarang Laba-laba Itu Najis

Pertanyaan : Bahwa binatang laba-laba membuat rumah lewat dari jalan belakang (dubur) pertanyaannya apakah hukum sarang laba-laba itu najis ??

Jawaban :
Imam Zainuddin Al Malibari menyebutkan :

وكذا نسج عنكبوت على المشهور. كما قاله السبكي والاذرعي، وجزم صاحب العدة والحاوي بنجاسته.

Begitu juga (suci) sarang laba-laba menurut pendapat yang Masyhur, sebagaimana dikatakan oleh Imam Imam As Subki dan Al Adzra’i. Pengarang kitab Al Uddah dan Al Hawi menetapkan kenajisannya.

Para Ulama’ menetapkan bahwa sarang laba-laba berasal dari mulutnya, dan hukumnya sama dengan hukum ludahnya.

Menurut Muqobilul Masyhur, sarang laba-laba dihukumi Najis, sebab laba-laba adalah binatang pemakan bangkai, sehingga mulutnya dihukumi Najis, begitu juga ludah yang berasal darinya juga Najis.

Menurut pendapat yang Masyhur, sarang laba-laba adalah suci. Sebab kenajisan mulut laba-laba itu sendiri belum bisa dipastikan, dan kita tidak bisa menghukumi sesuatu dengan hukum Najis dengan berdasar pada sesuatu yang tidak pasti. Wallohu ‘A’lam.

[Zean Areev]

حاشية اعانة الطالبين ج ١ ص ١١٣
(قوله: وكذا نسج عنكبوت) أي ومثل دود ميتتهما نسج عنكبوت، فهو طاهر على المشهور. وعلله في التحفة بأن نجاسته تتوقف على تحقق كونه من لعابها وأنها لا تتغذى إلا بذلك – أي الذباب – وأن ذلك النسج قبل احتمال طهارة فيها. وأتى بواحد من هذه الثلاثة. (قوله: وجزم صاحب العدة والحاوي بنجاسته) أي نسج العنكبوت. وهذا خلاف المشهور.

نهاية الزين ص ٤١
وميتة غير بشر وسمك وجراد) وَلَو نَحْو ذُبَاب كدود خل مَعَ شعرهَا وصوفها ووبرها وريشها وعظمها وظلفها وظفرها وحافرها وَسَائِر أَجْزَائِهَا وَمن ذَلِك ثوب الثعبان بِخِلَاف نسج العنكبوت فَإِنَّهُ من اللعاب

حاشية الجمل ج ١ ص ١٧٥
 وَكَذَا نَسْجُ الْعَنْكَبُوتِ عَلَى الْمَشْهُورِ اهـ بِرْمَاوِيٌّ.
وَعِبَارَةُ التُّحْفَةِ وَعَنْ الْعُدَّةِ وَالْحَاوِي الْجَزْمُ بِنَجَاسَةِ نَسْجِ الْعَنْكَبُوتِ وَيُؤَيِّدُهُ قَوْلُ الْغَزَالِيِّ وَالْقَزْوِينِيِّ أَنَّهُ مِنْ لُعَابِهَا مَعَ قَوْلِهِمْ إنَّهَا تَتَغَذَّى بِالذُّبَابِ الْمَيِّتِ لَكِنَّ الْمَشْهُورَ الطَّهَارَةُ كَمَا قَالَهُ السُّبْكِيُّ وَالْأَذْرَعِيُّ اهـ أَيْ؛ لِأَنَّ نَجَاسَتَهُ تَتَوَقَّفُ عَلَى تَحَقُّقِ كَوْنِهِ مِنْ لُعَابِهَا وَأَنَّهَا لَا تَتَغَذَّى إلَّا بِذَلِكَ وَأَنَّ ذَلِكَ النَّسْجَ قَبْلَ احْتِمَالِ طَهَارَةٍ فِيهَا وَأَنَّى بِوَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ انْتَهَتْ. 

Ingin bertanya permasalahan Agama? Kirimkan pertanyaan Anda kepada Tim Asatidz Tafaqquh Nyantri Yuk, klik http://tanya.nyantriyuk.id

BERBAGI YUK!

Silahkan disukai dan dibagikan, insya Allah bernilai ibadah, dan jadikan ladang pahala dalam menginfaqkan ilmu-ilmu Syari'ah. Hamba yang menunjukan kebaikan kepada orang lain maka dia juga akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukan kebaikan tersebut. Syukron :)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *