Status Nasab Anak Yang Lahir dari Wanita Yang Diperkosa

Pertanyaan : Soal “Hukum Perempuan Yang Dipaksa Dizinai (diperkosa) Dan Status Anaknya” Jawabannya masih belum lengkap, di situ baru sebatas tentang hukum wanita atau pria yang di perkosa. Sedangkan apabila wanita yang di perkosa hamil lalu lahir seorang anak, status nasabnya kepada siapa belum di jelaskan. Dan bagaimana nanti nya kalau anak tersebut menikah atau mengurus akta kelahiran?

Jawaban :

Status anak yang dilahirkan dari hasil Zina adalah tidak bernasab kepada laki-laki yang berzina, akan tetapi Nasabnya hanya kepada Ibunya saja.

Tapi, apabila laki-laki dan perempuan yang melakukan Zina itu kemudian menikah setelah melakukan per Zinahan, dan kemudian melahirkan seorang anak maka mengenai Nasab anak tersebut tetap ber-Nasab kepada Ibunya, sedangkan mengenai Nasabnya kepada laki-laki yang menikahi ibunya / ayahnya adalah diperinci sebagai berikut :

A. Apabila anak tersebut dilahirkan lebih dari enam bulan dari pernikahan (masa minimal mengandung) dan kurang dari empat tahun (masa maksimal mengandung) setelah akad nikahnya, maka disini ada dua hukum.

1. Apabila ada kemungkinan anak tersebut berasal dari suami yang menikahi perempuan / ibu dari anak, misalnya karena terjadi hubungan badan antara keduanya setelah akad nikah, maka anak tersebut tetap bernasab kepada suami. Maka disini berlaku hukum-hukum anak seperti hukum waris, perwalian nikah dll. Disini sang suami diharamkan meli’an istrinya atau meniadakan Nasab anak tersebut darinya (tidak boleh tidak mengakui sebagai anaknya).

2. Apabila tidak ada kemungkinkan anak tersebut berasal dari suami sang Ibu / tidak ada kemungkinan hasil dari setelah pernikahan, misalnya karena belum pernah berhubungan badan semenjak akad nikah hingga melahirkan, maka hukum anak yang dilahirkan hanya bernasab kepada ibunya, dan wajib bagi suami untuk meli’an dengan meniadakan nasab anak darinya (tidak mengakui sebagai anaknya). Hal ini untuk menjaga agar tidak terjadi hak waris kepada anak.

B. Apabila anak tersebut dilahirkan kurang dari enam bulan atau lebih dari empat tahun dari pernikahan, maka anak tersebut tidak bisa dinasabkan kepada suami.

Hukum menikahi perempuan yang sedang hamil diluar Nikah adalah boleh dan Sah. Hanya saja pernikahan yang dilakukan oleh perempuan tersebut apabila dilakukan dengan tujuan menutupi aib pelaku atau agar suaminya bisa menjadi ayah dari anak yang berada di dalam kandungan, maka hukum melakukannya adalah Haram dan wajib bagi penguasa untuk membatalkan acara pernikahan itu. Bagi yang menghalalkan acara itu dengan tujuan di atas, dihukumi Murtad atau keluar dari agama Islam. Disini terdapat penipuan Nasab dengan berkedok agama sehingga mengakui bayi yang lahir sebagai anaknya padahal itu anak diluar nikah.

[Zean Areev]

‏ﺑﻐﻴﺔ ﺍﻟﻤﺴﺘﺮﺷﺪﻳﻦ ﺹ ٢٣٥-٢٣٦
‏( ﻣﺴﺌﻠﺔ ﻱ ﺵ ‏) ﻧﻜﺢ ﺣﺎﻣﻼ ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﻓﻮﻟﺪﺕ ﻛﺎﻣﻼ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﺣﻮﺍﻝ ﺇﻣﺎ ﻣﻨﺘﻒ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﻇﺎﻫﺮﺍ ﻭﺑﺎﻃﻨﺎ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻣﻼﻋﻨﺔ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﻮﻟﻮﺩ ﻟﺪﻭﻥ ﺳﺘﺔ ﺃﺷﻬﺮ ﻣﻦ ﺇﻣﻜﺎﻥ ﺍﻹﺟﺘﻤﺎﻉ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻌﻘﺪ ﺃﻭ ﻷﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺃﺭﺑﻊ ﺳﻨﻴﻦ ﻣﻦ ﺁﺧﺮ ﺇﻣﻜﺎﻥ ﺍﻹﺟﺘﻤﺎﻉ ﻭﺇﻣﺎ ﻻﺣﻖ ﺑﻪ ﻭﺗﺜﺒﺖ ﻟﻪ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﺇﺭﺛﺎ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻇﺎﻫﺮﺍ ﻭﻳﻠﺰﻡ ﻧﻔﻴﻪ ﺑﺄﻥ ﻭﻟﺪﺕ ﻷﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺘﺔ ﻭﺃﻗﻞ ﻣﻦ ﺍﻷﺭﺑﻊ ﺍﻟﺴﻨﻴﻦ ﻭﻋﻠﻢ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﺃﻭ ﻏﻠﺐ ﻋﻠﻰ ﻇﻨﻪ ﺃﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﺑﺄﻥ ﻟﻢ ﻳﻄﺄ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻌﻘﺪ ﻭﻟﻢ ﺗﺴﺘﺪﺧﻞ ﻣﺎﺀﻩ ﺃﻭ ﻭﻟﺪﺕ ﻟﺪﻭﻥ ﺳﺘﺔ ﺃﺷﻬﺮ ﻣﻦ ﻭﻃﺌﻪ ﺃﻭ ﻷﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺃﺭﺑﻊ ﺳﻨﻴﻦ ﻣﻨﻪ ﺃﻭ ﻷﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺳﺘﺔ ﺃﺷﻬﺮ ﺑﻌﺪ ﺍﺳﺘﺒﺮﺍﺋﻪ ﻟﻬﺎ ﺑﺤﻴﻀﻪ ﻭﺛﻢ ﻗﺮﻳﻨﺔ ﺑﺰﻧﺎﻫﺎ ﻭﻳﺄﺛﻢ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﺑﺘﺮﻙ ﺍﻟﻨﻔﻲ ﺑﻞ ﻫﻮ ﻛﺒﻴﺮﺓ ﻭﻭﺭﺩ ﺃﻥ ﺗﺮﻛﻪ ﻛﻔﺮ ﻭﺇﻣﺎ ﻻﺣﻖ ﺑﻪ ﻇﺎﻫﺮﺍ ﺃﻳﻀﺎ ﻟﻜﻦ ﻻ ﻳﻠﺰﻣﻪ ﻧﻔﻴﻪ ﺇﺫﺍ ﻇﻦ ﺃﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﺑﻼ ﻏﻠﺒﺔ ﺑﺄﻥ ﺍﺳﺘﺒﺮﺃﻫﺎ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻮﻁﺀ ﻭﻭﻟﺪﺕ ﺑﻪ ﻷﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺳﺘﺔ ﺃﺷﻬﺮ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺛﻢ ﺭﻳﺒﺔ ﺑﺰﻧﺎﻫﺎ ﺇﺫ ﺍﻻﺳﺘﺒﺮﺍﺀ ﺃﻣﺎﺭﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻟﻜﻦ ﻳﻨﺪﺏ ﺗﺮﻛﻪ ﻷﻥ ﺍﻟﺤﺎﻣﻞ ﻗﺪ ﺗﺤﻴﺾ ﻭﺇﻣﺎ ﻻﺣﻖ ﺑﻪ ﻭﻳﺤﺮﻡ ﻧﻔﻴﻪ ﺑﻞ ﻫﻮ ﻛﺒﻴﺮﺓ ﻭﻭﺭﺩ ﺃﻧﻪ ﻛﻔﺮ ﺇﻥ ﻏﻠﺐ ﻋﻠﻰ ﻇﻨﻪ ﺃﻧﻪ ﻣﻨﻪ ﺃﻭ ﺍﺳﺘﻮﻯ ﺍﻷﻣﺮﺍﻥ ﺑﺄﻥ ﻭﻟﺪﺕ ﻟﺴﺘﺔ ﺃﺷﻬﺮ ﻓﺄﻛﺜﺮ ﺇﻟﻰ ﺃﺭﺑﻊ ﺳﻨﻴﻦ ﻣﻦ ﻭﻃﺌﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﺴﺘﺒﺮﺋﻬﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﺃﻭ ﺍﺳﺘﺒﺮﺃﻫﺎ ﻭﻭﻟﺪﺕ ﺑﻌﺪﻩ ﺑﺄﻗﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺘﺔ ﺑﻞ ﻳﻠﺤﻘﻪ ﺑﺤﻜﻢ ﺍﻟﻔﺮﺍﺵ ﻛﻤﺎ ﻟﻮ ﻋﻠﻢ ﺯﻧﺎﻫﺎ ﻭﺍﺣﺘﻤﻞ ﻛﻮﻥ ﺍﻟﺤﻤﻞ ﻣﻨﻪ ﺃﻭ ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﻭﻻ ﻋﺒﺮﺓ ﺑﺮﻳﺒﺔ ﻳﺠﺪﻫﺎ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻗﺮﻳﻨﺔ ﻓﺎﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﻮﻟﻮﺩ ﻋﻠﻰ ﻓﺮﺍﺵ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﻻﺣﻖ ﺑﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﺇﻥ ﺃﻣﻜﻦ ﻛﻮﻧﻪ ﻣﻨﻪ ﻭﻻ ﻳﻨﺘﻘﻲ ﻣﻨﻪ ﺇﻻ ﺑﻠﻠﻌﺎﻥ ﻭﺍﻟﻨﻔﻲ ﺗﺎﺭﺓ ﻳﺠﺐ ﻭﺗﺎﺭﺓ ﻳﺤﺮﻡ ﻭﺗﺎﺭﺓ ﻳﺠﻮﺯ ﻭﻻﻋﺒﺮﺓ ﺑﺈﻗﺮﺍﺭ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺑﺎﻟﺰﻧﺎ ﻭﺇﻥ ﺻﺪﻗﻬﺎ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﻭﻇﻬﺮﺕ ﺃﻣﺎﺭﺍﺗﻪ .

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ج ٣ ص ٣٢٧
‏( ﻗﻮﻟﻪ : ﻻ ﻣﺨﻠﻮﻗﺔ ﻣﻦ ﻣﺎﺀ ﺯﻧﺎﻩ ‏) ﺃﻱ ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻧﻜﺎﺡ ﻣﺨﻠﻮﻗﻪ ﻣﻦ ﻣﺎﺀ ﺯﻧﺎﻩ : ﺇﺫ ﻻ ﺣﺮﻣﺔ ﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﻟﻜﻦ ﻳﻜﺮﻩ ﻧﻜﺎﺣﻬﺎ ﺧﺮﻭﺟﺎ ﻣﻦ ﺧﻼﻑ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ . ﻭﻣﺜﻞ ﺍﻟﻤﺨﻠﻮﻗﺔ ﻣﻦ ﻣﺎﺀ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﺍﻟﻤﺨﻠﻮﻗﺔ ﻣﻦ ﻣﺎﺀ ﺍﺳﺘﻤﻨﺎﺋﻪ ﺑﻐﻴﺮ ﻳﺪ ﺣﻠﻴﻠﺘﻪ ﻭﺍﻟﻤﺮﺗﻀﻌﺔ ﺑﻠﺒﻦ ﺍﻟﺰﻧﺎ، ﻭﺇﻥ ﺃﺭﺿﻌﺖ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺑﻠﺒﻦ ﺯﻧﺎ ﺷﺨﺺ ﺑﻨﺘﺎ ﺻﻐﻴﺮﺓ ﺣﻠﺖ ﻟﻪ، ﻭﻻ ﻳﻘﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﻟﺰﺍﻧﻴﺔ، ﻓﺈﻧﻬﺎ ﻳﺤﺮﻡ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﺑﺎﻻﺟﻤﺎﻉ . ﻭﺍﻟﻔﺮﻕ ﺃﻥ ﺍﻟﺒﻨﺖ ﺍﻧﻔﺼﻠﺖ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻭﻫﻲ ﻧﻄﻔﺔ ﻗﺬﺭﺓ ﻻ ﻳﻌﺒﺄ ﺑﻬﺎ، ﻭﺍﻟﻮﻟﺪ ﺍﻧﻔﺼﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻭﻫﻮ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﻛﺎﻣﻞ

ﻣﺼﻨﻒ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺷﻴﺒﺔ ج ٨ ص ٣٧٤
‏( 21 ‏) ﻣﺴﺄﻟﺔ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﺑﻐﻴﺮ ﻭﻟﻲ ‏( 1 ‏) ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﻣﻌﺎﺫ ﻗﺎﻝ ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺍﺑﻦ ﺟﺮﻳﺢ ﻋﻦ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﻣﻮﺳﻰ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻫﺮﻱ ﻋﻦ ﻋﺮﻭﺓ ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﻗﺎﻟﺖ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ‏( ﺹ ‏) : ‏( ﺃﻳﻤﺎ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻟﻢ ﻳﻨﻜﺤﻬﺎ ﺍﻟﻮﻟﻲ ﺃﻭ ﺍﻟﻮﻻﺓ ﻓﻨﻜﺎﺣﻬﺎ ﺑﺎﻃﻞ – ﻗﺎﻟﻬﺎ ﺛﻼﺛﺎ – ﻓﺈﻥ ﺃﺻﺎﺑﻬﺎ ﻓﻠﻬﺎ ﻣﻬﺮﻫﺎ ﺑﻤﺎ ﺃﺻﺎﺏ ﻣﻨﻬﺎ ، ﻓﺈﻥ ﺗﺸﺎﺟﺮﻭﺍ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻭﻟﻲ ﻣﻦ ﻻ ﻭﻟﻲ ﻟﻪ ‏) .

‏ﺑﻐﻴﺔ ﺍﻟﻤﺴﺘﺮﺷﺪﻳﻦ ﺹ ٢٤٩-٢٥٠
‏( ﻣﺴﺌﻠﺔ ‏) ﻣﻠﺨﺼﺔ ﻣﻊ ﺯﻳﺎﺩﺓ ﻣﻦ ﺍﻹﻛﺴﻴﺮ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﻟﻠﺸﺮﻳﻒ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﻋﻨﻘﺎﺀ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻟﻠﻔﺮﺍﺵ ﺍﻟﺦ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻓﺮﺍﺷﺎ ﻟﺰﻭﺟﻬﺎ ﺃﻭ ﺳﻴﺪﻫﺎ ﻓﺄﺗﺖ ﺑﻮﻟﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻣﻨﺴﻮﺑﺎ ﻟﺼﺎﺣﺐ ﺍﻟﻔﺮﺍﺵ ﻻ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺰﺍﻧﻲ ﻓﻼ ﻳﻠﺤﻘﻪ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻭﻻ ﻳﻨﺴﺐ ﺇﻟﻴﻪ ﻇﺎﻫﺮﺍ ﻭﻻ ﺑﺎﻃﻨﺎ ﻭﺇﻥ ﺍﺳﺘﻠﺤﻘﻪ ﻭﻣﻦ ﻫﻨﺎ ﻳﻌﻠﻢ ﺷﺪﺓ ﻣﺎ ﺍﺷﺘﻬﺮ ﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﺯﻧﻰ ﺷﺨﺺ ﺑﺈﻣﺮﺃﺓ ﻭﺃﺣﺒﻠﻬﺎ ﺗﺰﻭﺟﻬﺎ ﻭﺍﺳﺘﻠﺤﻖ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻓﻮﺭﺛﻪ ﻭﻭﺭﺛﻪ ﺯﺍﻋﻤﺎ ﺳﺘﺮﻫﺎ ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺃﺷﺪ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺍﺕ ﺍﻟﺸﻨﻴﻌﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﻳﺴﻊ ﺃﺣﺪﺍ ﺍﻟﺴﻜﻮﺕ ﻋﻨﻬﺎ ﻓﺈﻧﻪ ﺧﺮﻕ ﻟﻠﺸﺮﻳﻌﺔ ﻭﻣﻨﺎﺑﺬﺓ ﻷﺣﻜﺎﻣﻬﺎ ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺰﻟﻪ ﻣﻊ ﻗﺪﺭﺗﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻭﻣﺎﻟﻪ ﻓﻬﻮ ﺷﻴﻄﺎﻥ ﻓﺎﺳﻖ ﻭﻣﺪﺍﻫﻦ ﻣﻨﺎﻓﻖ ﻭﺃﻣﺎ ﻓﺎﻋﻠﻪ ﻓﻜﺎﺩ ﻳﺨﻠﻊ ﺭﺑﻘﺔ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻷﻧﻪ ﻗﺪ ﺃﻋﻈﻢ ﺍﻟﻌﻨﺎﺩ ﻟﺴﻴﺪ ﺍﻷﻧﺎﻡ ﻣﻊ ﻣﺎ ﺗﺮﺗﺐ ﻋﻠﻰ ﻓﻌﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺍﺕ ﻭﺍﻟﻤﻔﺎﺳﺪ ﻣﻨﻬﺎ ﺣﺮﻣﺎﻥ ﺍﻟﻮﺭﺛﺔ ﻭﺗﻮﺭﻳﺚ ﻣﻦ ﻻ ﺷﻲﺀ ﻟﻪ ﻣﻊ ﺗﺨﻠﻴﺪ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻄﻮﻥ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﻣﻨﻬﺎ ﺃﻧﻪ ﺻﻴﺮ ﻭﻟﺪ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﺑﺎﺳﺘﻠﺤﺎﻗﻪ ﻛﺎﺑﻨﻪ ﻓﻲ ﺩﺧﻮﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﺎﺭﻡ ﺍﻟﺰﺍﻧﻲ ﻭﻋﺪﻡ ﻧﻘﺾ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺑﻤﺴﻬﻦ ﺃﺑﺪﺍ ﻭﻣﻨﻬﺎ ﻭﻻﻳﺘﻪ ﻭﺗﺰﻭﻳﺠﻪ ﻧﺴﺎﺀ ﺍﻟﺰﺍﻧﻲ ﻛﺒﻨﺎﺗﻪ ﻭﺃﺧﻮﺗﻪ ﻭﻣﻦ ﻟﻪ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﻻﻳﺔ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻣﺴﻮﻍ ﻓﻴﺼﻴﺮ ﻧﻜﺎﺣﺎ ﺑﻼ ﻭﻟﻲ ﻓﻬﺬﻩ ﺃﻋﻈﻢ ﻭﺃﺷﻨﻊ ﺇﺫ ﻳﺨﻠﺪ ﺫﻟﻚ ﻓﻴﻪ ﻭﻓﻲ ﺫﺭﻳﺘﻪ ﻭﻳﻠﻪ ﻓﻤﺎ ﻛﻔﺎﻩ ﺃﻥ ﺍﺭﺗﻜﺐ ﺃﻓﺤﺶ ﺍﻟﻜﺒﺎﺋﺮ ﺣﻴﺚ ﺯﻧﻰ ﺣﺘﻰ ﺿﻢ ﺇﻟﻰ ﺫﻟﻚ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺃﺷﺪ ﺣﺮﻣﺔ ﻣﻨﻪ ﻭﺃﻓﺤﺶ ﺷﻨﺎﻋﺔ ﻭﺃﻱ ﺳﺘﺮ ﻭﻗﺪ ﺟﺎﺀ ﺷﻴﺌﺎ ﻓﺮﻳﺎ ﻭﺃﺣﺮﻡ ﺍﻟﻮﺭﺛﺔ ﻭﺃﺑﻘﺎﻩ ﻋﻠﻰ ﻛﺮﻭﺭ ﺍﻟﻤﻠﻮﻳﻦ ﻭﻛﻞ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﺤﻞ ﻫﺬﺍ ﻓﻬﻮ ﻛﺎﻓﺮ ﻣﺮﺗﺪ ﺧﺎﺭﺝ ﻋﻦ ﺩﻳﻦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻓﻴﻘﺘﻞ ﻭﺗﺤﺮﻕ ﺟﻴﻔﺘﻪ ﺃﻭ ﺗﻠﻘﻰ ﻟﻠﻜﻼﺏ ﻭﻫﻮ ﺻﺎﺋﺮ ﺇﻟﻰ ﻟﻌﻨﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﺬﺍﺑﻪ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﻓﻴﺠﺐ ﻣﺆﻛﺪﺍ ﻋﻠﻰ ﻭﻻﺓ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺯﺟﺮﻫﻢ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ ﻭﺗﻨﻜﻴﻠﻬﻢ ﺃﺷﺪ ﺍﻟﺘﻨﻜﻴﻞ ﻭﻋﻘﺎﺑﻬﻢ ﺑﻤﺎ ﻳﺮﻭﻋﻬﻢ ﻭﻗﺪ ﻋﻠﻢ ﺑﺬﻟﻚ ﺷﺪﺓ ﺧﻄﺮ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﻭﺃﻧﻪ ﻣﻦ ﺃﻛﺒﺮ ﺍﻟﻜﺒﺎﺋﺮ ‏( ﻣﺴﺌﻠﺔ ﻱ ‏) ﺣﻤﻠﺖ ﺇﻣﺮﺃﺓ ﻭﻭﻟﺪﺕ ﻭﻟﻢ ﺗﻘﺮ ﺑﺎﻟﺰﻧﺎ ﻟﻢ ﻳﻠﺰﻣﻬﺎ ﺍﻟﺤﺪ ﺇﺫ ﻻ ﻳﻠﺰﻡ ﺍﻟﺤﺪ ﺇﻻ ﺑﺒﻴﻨﺔ ﺃﻭ ﺇﻗﺮﺍﺭ ﺃﻭ ﻟﻌﺎﻥ ﺯﻭﺝ ﺃﻭ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﺇﻟﻰ ﻗﻨﺔ ﺇﺫ ﻗﺪ ﺗﻮﻃﺄ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺑﺸﺒﻬﺔ ﺃﻭ ﻭﻫﻲ ﻧﺎﺋﻤﺔ ﺃﻭ ﺳﻜﺮﺍﻧﺔ ﺑﻌﺬﺭ ﺃﻭ ﻣﺠﻨﻮﻧﺔ ﺃﻭ ﻣﻜﺮﻫﺔ ﺃﻭ ﺗﺴﺘﺪﺧﻞ ﻣﻨﻴﺎ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺇﻳﻼﺝ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﻓﺘﺤﺒﻞ ﻣﻨﻪ ﻭﻻ ﻳﻮﺟﺐ ﺣﺪﺍ ﻟﻠﺸﺒﻬﺔ ﻓﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﻛﻞ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﺣﻤﻠﺖ ﻭﺃﺗﺖ ﺑﻮﻟﺪ ﺇﻥ ﺃﻣﻜﻦ ﻟﺤﻮﻗﻪ ﺑﺰﻭﺟﻬﺎ ﻟﺤﻘﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﻨﺘﻒ ﻋﻨﻪ ﺇﻻ ﺑﺎﻟﻠﻌﺎﻥ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻛﺄﻥ ﻃﺎﻟﺖ ﻏﻴﺒﺔ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﺑﻤﺤﻞ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ ﺍﺟﺘﻤﺎﻋﻬﻤﺎ ﻋﺎﺩﺓ ﻛﺎﻥ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﺤﻤﻞ ﻛﺎﻟﺰﻧﺎ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻌﺪﻡ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﻌﺪﺓ ﻭﺟﻮﺯ ﺍﻧﻜﺎﺣﻬﺎ ﻭﻃﺌﻬﺎ ﻭﻛﺎﻟﺸﺒﻬﺔ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﺪﺭﺀ ﺍﻟﺤﺪ ﻭﺍﻟﻘﺬﻑ ﻭﺍﺟﺘﻨﺎﺏ ﺳﻮﺀ ﺍﻟﻈﻦ ﻧﻌﻢ ﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻗﻠﻴﻠﺔ ﺍﻟﺤﻴﺎﺀ ﻭﺍﻟﺘﻘﻮﻯ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﺍﻟﺨﻠﻮﺓ ﺑﺎﻷﺟﺎﻧﺐ ﻭﺍﻟﺘﺰﻳﻦ ﻟﻬﻢ ﻭﺗﺤﺪﺙ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﻘﺬﻓﻬﺎ ﻋﺰﺭﻫﺎ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺑﻤﺎ ﻳﺰﺟﺮ ﺃﻣﺜﺎﻟﻬﺎ ﻋﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻔﻌﻞ

Ingin bertanya permasalahan Agama? Kirimkan pertanyaan Anda kepada Tim Asatidz Tafaqquh Nyantri Yuk, klik http://tanya.nyantriyuk.id

BERBAGI YUK!

Silahkan disukai dan dibagikan, insya Allah bernilai ibadah, dan jadikan ladang pahala dalam menginfaqkan ilmu-ilmu Syari'ah. Hamba yang menunjukan kebaikan kepada orang lain maka dia juga akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukan kebaikan tersebut. Syukron :)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *