Berjabat Tangan Dengan Tangan Yang Habis Memegang Najis Mugholladzoh

Pertanyaan : Bagaimana hukum berjabat tangan dengan orang yang sering makan daging anjing dan bagaimana hukum wadah makan yang telah di gunakan oleh orang yang sering makan daging anjing tersebut ???

Jawaban :

Hukum najis yang ditimbulkan dari anjing, babi, dan keturunan keduanya adalah najis mugholladzoh sehingga cara menyucikannya pun harus dengan tujuh kali basuhan dan salah satu basuhannya dicampuri dengan debu yang suci.
Dalam permasalahan ini seseorang yang berjabat tangan dengan orang yang pernah atau sering makan daging anjing tersebut di perinci :
a. Apabila kita tahu kenajisan tangan orang yang makan daging anjing tersebut dengan pasti bukan atas dasar praduga semisal kita melihat dia baru selesai makan dan memegang daging anjing yang dia makan dan kemudian setelah itu dia langsung besalaman dengan kita maka dihukumi najis.
b. Apabila dia menghilang dari pandangan kita dan ada kemungkinan (tau tata cara menyucikan najis mugholladzoh) menyucikan najisnya tersebut maka ada dua pendapat :
1.Tetap dihukumi najis karena asalnya memang najis, ini pendapat yang paling shohih.
2.Tangan kita dihukumi suci karena memang asalanya suci dikarenakan ada kemungkinan orang tersebut menyucikan najisnya saat menghilang dari pandangan kita.

Penting : Najis tidak bisa berpindah kecuali ada iltiqo’unnajasah (bertemu dengan najis) dalam keadan sama-sama basah atau salah satunya ada yang basah,
Apabila tidak atau masih ragu maka tetap dihukumi suci.
Wallohu a’lam
[A.D]

Referensi:

الحاوى كبير ١/٤٦
ﻭﺃﻣﺎ ﺍﺳﺘﺪﻻﻟﻬﻢ ﺑﺎﻟﻬﺮﺓ ﺇﺫﺍ ﺃﻛﻠﺖ ﻓﺄﺭﺓ ﻓﻐﻴﺮ ﻣﺴﻠﻢ ؛ ﻷﻧﻨﺎ ﻣﺘﻰ ﻋﻠﻤﻨﺎ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻓﻤﻬﺎ ﺑﺄﻥ ﻭﻟﻐﺖ ﻓﻲ ﺍﻹﻧﺎﺀ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﺗﻐﻴﺐ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻴﻦ ﻓﺎﻟﻤﺎﺀ ﻧﺠﺲ ، ﻭﺇﻥ ﻏﺎﺑﺖ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻴﻦ ﻓﻔﻴﻪ ﻭﺟﻬﺎﻥ :
ﺃﺻﺤﻬﻤﺎ : ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻧﺠﺲ ، ﻷﻥ ﺍﻷﺻﻞ ﺑﻘﺎﺀ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻓﻲ ﻓﻤﻬﺎ .
ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻃﺎﻫﺮ ﻷﻥ ﺍﻷﺻﻞ ﻃﻬﺎﺭﺓ ﺍﻟﻤﺎﺀ ، ﻭﻗﺪ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﺍﻟﻬﺮﺓ ﺣﻴﻦ ﻏﺎﺑﺖ ﻭﻟﻐﺖ ﻓﻲ ﺇﻧﺎﺀ ﺁﺧﺮ ﻓﻄﻬﺮ ﻓﻤﻬﺎ .

فتح المعين ١/٧٣
ﻭﺳﺆﺭ ﻛﻞ ﺣﻴﻮﺍﻥ ﻃﺎﻫﺮ ﻓﻠﻮ ﺗﻨﺠﺲ ﻓﻤﻪ ﺛﻢ ﻭﻟﻎ ﻓﻲ ﻣﺎﺀ ﻗﻠﻴﻞ ﺃﻭ ﻣﺎﺋﻊ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﻌﺪ ﻏﻴﺒﺔ ﻳﻤﻜﻦ ﻓﻴﻬﺎ ﻃﻬﺎﺭﺗﻪ ﺑﻮﻟﻮﻏﻪ ﻓﻲ ﻣﺎﺀ ﻛﺜﻴﺮ ﺃﻭ ﺟﺎﺭ ﻟﻢ ﻳﻨﺠﺴﻪ ﻭﻟﻮ ﻫﺮﺍ ﻭﺇﻻ ﻧﺠﺴﺘﻪ .
– http://alhibr1.com/pdfshow.php?num=5904:
ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﻬﺮﺓ، ﻓﻘﺪ ﺛﺒﺖ ﻋﻨﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ : ‏( ﺇﻧﻬﺎ ﻟﻴﺴﺖ ﺑﻨﺠﺴﺔ، ﺇﻧﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﻮﺍﻓﻴﻦ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺍﻟﻄﻮﺍﻓﺎﺕ ‏) .
ﻭﺗﻨﺎﺯﻉ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻓﻴﻤﺎ ﺇﺫﺍ ﺃﻛﻠﺖ ﻓﺄﺭﺓ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ، ﺛﻢ ﻭﻟﻐﺖ ﻓﻲ ﻣﺎﺀ ﻗﻠﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﻗﻮﺍﻝ ﻓﻲ ﻣﺬﻫﺐ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﻏﻴﺮﻩ : ﻗﻴﻞ : ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻃﺎﻫﺮ ﻣﻄﻠﻘًﺎ . ﻭﻗﻴﻞ : ﻧﺠﺲ ﻣﻄﻠﻘًﺎ ﺣﺘﻰ ﺗﻌﻠﻢ ﻃﻬﺎﺭﺓ ﻓﻤﻬﺎ . ﻭﻗﻴﻞ : ﺇﻥ ﻏﺎﺑﺖ ﻏﻴﺒﺔ ﻳﻤﻜﻦ ﻓﻴﻬﺎ ﻭﺭﻭﺩﻫﺎ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﻄﻬﺮ ﻓﻤﻬﺎ ﻛﺎﻥ ﻃﺎﻫﺮًﺍ، ﻭﺇﻻ ﻓﻼ . ﻭﻫﺬﻩ ﺍﻷﻭﺟﻪ ﻓﻲ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﺃﺣﻤﺪ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ . ﻭﻗﻴﻞ : ﺇﻥ ﻃﺎﻝ ﺍﻟﻔﺼﻞ ﻛﺎﻥ ﻃﺎﻫﺮﺍ، ﺟﻌﻼ ﻟﺮﻳﻘﻬﺎ ﻣﻄﻬﺮﺍ ﻟﻔﻤﻬﺎ ﻷﺟﻞ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ، ﻭﻫﺬﺍ ﻗﻮﻝ ﻃﺎﺋﻔﺔ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﺃﺣﻤﺪ، ﻭﻫﻮ ﺃﻗﻮﻱ ﺍﻷﻗﻮﺍﻝ
ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻷﻭﻝ
‏( ﻣﺴﺄﻟﺔ ‏) ﺍﻟﻬﺮﺓ ﺇﺫﺍ ﺃﻛﻠﺖ ﻓﺄﺭﺓ ﻭﻭﻟﻐﺖ ﻓﻲ ﻣﺎﺀ ﻗﻠﻴﻞ ﻓﺎﻟﺼﺤﻴﺢ ﺃﻧﻬﺎ ﺇﻥ ﻏﺎﺑﺖ ﺑﺤﻴﺚ ﻳﻤﻜﻦ ﻭﺭﻭﺩﻫﺎ ﻋﻠﻰ ﻣﺎﺀ ﻛﺜﻴﺮ ﻓﻬﻮ ﻃﺎﻫﺮ ﻭﺇﻻ ﻓﻼ . ﻭﻫﻞ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻬﺮﺓ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺜﻮﺏ ﺇﺫﺍ ﺗﻨﺠﺲ ﻭﻏﺴﻞ ﻣﺎ ﻳﻤﻜﻦ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻫﻮ ﺍﻟﻨﺠﺲ ﺃﻭ ﻻ ؟ ﻭﻫﻞ ﺇﺫﺍ ﺣﻤﻞ ﺍﻟﻤﺼﻠﻲ ﺍﻟﻬﺮﺓ ﺃﻭ ﺍﻟﺜﻮﺏ ﻭﺍﻟﺤﺎﻟﺔ ﻫﺬﻩ ﺗﺒﻄﻞ ﺻﻼﺗﻪ ﺃﻡ ﻻ ؟ ‏(
ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ‏) ﻻ ﻳﺘﻌﺪﻯ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻬﺮﺓ ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻴﻮﺍﻧﺎﺕ ﻷﻥ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺑﺎﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻓﻴﻬﺎ ﻳﺴﺘﻨﺪ ﺇﻟﻰ ﺍﺳﺘﺼﺤﺎﺏ ﻃﻬﺎﺭﺓ ﻣﻊ ﺿﺮﺏ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻔﻮ ﻗﻮﻱ . ﻭﺇﺫﺍ ﺣﻤﻠﻬﺎ ﺍﻟﻤﺼﻠﻲ – ﺑﻄﻠﺖ ﺻﻼﺗﻪ ﺍﺳﺘﺼﺤﺎﺑﺎ ﻟﻠﻨﺠﺎﺳﺔ ﻭﻻ ﻳﺘﻌﺪﻯ ﺍﻟﻌﻔﻮ ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻴﻮﺍﻧﺎﺕ ﻟﻌﺪﻡ ﻋﺴﺮ ﺍﻻﺣﺘﺮﺍﺯ ﻭﻫﻮ ﻋﻠﺔ ﺍﻟﻌﻔﻮ ، ﻭﺍﻟﻤﻌﻈﻢ ﺇﻧﻤﺎ ﺻﺤﺤﻮﺍ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﺗﻐﺐ ﻭﺗﺼﺤﻴﺢ ﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﺇﺫﺍ ﻏﺎﺑﺖ
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﺍﻓﻌﻲ : ﺇﻧﻪ ﺍﻷﻇﻬﺮ ﻭﻫﻮ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ؛ ﺇﻻ ﺃﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻣﺴﻨﻮﻧﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻌﻈﻢ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻬﺬﺏ ؛ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻤﺎﻭﺭﺩﻱ : ﺇﻥ ﺍﻷﺻﺢ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻭﺍﻟﺜﻮﺏ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺍﻟﻘﻄﻊ ﺑﺄﻧﻪ ﻻ ﻳﻨﺠﺲ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻟﻌﺪﻡ ﺍﺳﺘﺼﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻓﻴﻪ ، ﻓﺈﻧﺎ ﻟﻢ ﻧﺘﺤﻘﻖ ﺣﺼﻮﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺍﻟﺒﺎﻗﻲ ﻭﺇﺫﺍ ﻟﺒﺴﻪ ﺍﻟﻤﺼﻠﻲ ﺑﻄﻠﺖ ﺻﻼﺗﻪ ﻻﺷﺘﺮﺍﻁ ﻳﻘﻴﻦ ﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﺃﻭ ﻇﻨﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ، ﻭﻫﻮ ﻣﻔﻘﻮﺩ ، ﻭﺟﻮﺏ ﻏﺴﻞ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﺜﻮﺏ ﻣﺤﻘﻖ ﺑﻌﻀﻪ ﻳﻐﺴﻠﻪ ﻟﻠﻨﺠﺎﺳﺔ ﻭﺑﻌﻀﻪ ﻳﻐﺴﻠﻪ ﻟﻼﺷﺘﺒﺎﻩ ، ﻓﺈﺫﺍ ﻏﺴﻞ ﺑﻌﻀﻪ ﻓﺎﻟﻤﺤﻘﻖ ﺍﻟﻤﺴﺘﺤﺐ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﺑﺈﺣﺪﻯ ﺍﻟﻌﻠﺘﻴﻦ ﻻ ﺍﻟﻌﻠﺔ ﺍﻟﻤﻌﻴﻨﺔ ، ﻭﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﻳﻜﻔﻲ ﻓﻲ ﺑﻄﻼﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ، ﻭﻻ ﻳﻜﻔﻲ ﻓﻲ ﺗﻨﺠﻴﺲ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ ، ﻭﻫﺬﻩ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﻟﻢ ﺃﺟﺪﻫﺎ ﻣﻨﻘﻮﻟﺔ ﻭﻗﺪ ﻛﺘﺒﺖ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻛﺘﺎﺑﺔ ﻣﻄﻮﻟﺔ ﻓﻲ ﻓﺘﻮﻯ ﺳﺄﻟﻨﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﻋﻨﻬﺎ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ

(Hasil Bahtsul Masail Tim Kupas Tuntas Masalah Agama Tafaqquh Surakarta pada Selasa, 13 Jumadil Akhir 1439 H / 27 Februari 2018, bertempat di Masjid Jami’ Assegaf Surakarta)

Ingin bertanya permasalahan Agama? Kirimkan pertanyaan Anda kepada Tim Asatidz Tafaqquh Nyantri Yuk, klik http://tanya.nyantriyuk.id

BERBAGI YUK!

Silahkan disukai dan dibagikan, insya Allah bernilai ibadah, dan jadikan ladang pahala dalam menginfaqkan ilmu-ilmu Syari'ah. Hamba yang menunjukan kebaikan kepada orang lain maka dia juga akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukan kebaikan tersebut. Syukron :)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *