Cara Mensucikan Air yang Berubah Warna Terkena Najis

Pertanyaan: Bagaimana cara mensucikan air yang berubah warna terkena najis? Contoh kolam kamar mandi airnya sedikit berubah karna najis misalnya, lalu ditambah air mutlak hingga lebih dua qullah dan hingga meluber. Namun warna airnya belum jernih lagi hanya menyisakan sedikit perubahan sifat warnanya, kan sungguh merepotkan jika harus dikuras semua. Dan juga sudah diupayakan ditambah air mutlak sampai meluber sangat banyak tapi tidak juga kembali jernih seperti sedia kala. Itu bagaimana?

Jawaban :

Mengenai air bak kamar mandi yang Najis, maka air tersebut bisa menjadi suci kembali apabila :

A. Apabila air tersebut sedikit maka harus ditambahkan air hingga mencapai 2 Qollah dan perubahannya hilang.

B. Apabila air tersebut banyak (2 Qollah) maka cara menyucikannya bisa dengan cara menambahkan air hingga perubahannya hilang, atau perubahannya hilang dengan sendirinya. Bahkab juga bisa dengan menguranginya sampai perubahannya hilang serta sisa air masih 2 Qollah.

Air yang Najis, apabila air tersebut ditambahkan air sampai meluber dan perubahan air dengan najis masih ada, maka hukum air tersebut tetap dihukumi Najis, sebab diantara Syarat air bisa dihukumi suci adalah perubahan air tersebut yang terjadi dengan sebab Najis telah hilang, dan disini Syarat ini belum terpenuhi, sebab di sini masih ada perubahan air meskipun hanya sedikit.

Yang dimaksud perubahan yang harus hilang di sini adalah perubahan yang terjadi pada air dengan sebab Najis yang mencampurinya. (Zean Areev)

مغني المحتاج ج 1 ص 124
(فَإِنْ زَالَ تَغَيُّرُهُ) الْحِسِّيُّ أَوْ التَّقْدِيرِيُّ (بِنَفْسِهِ) بِأَنْ لَمْ يَحْدُثْ فِيهِ شَيْءٌ كَأَنْ زَالَ بِطُولِ الْمُكْثِ (أَوْ بِمَاءٍ) انْضَمَّ إلَيْهِ بِفِعْلٍ أَوْ غَيْرِهِ وَلَوْ نَجِسًا أَوْ أَخَذَ مِنْهُ كَمَا قَالَ فِي الْمُهَذَّبِ: أَيْ نَقَصَ وَالْبَاقِي قُلَّتَانِ، وَصَوَّرَهُ فِي شَرْحِهِ بِأَنْ يَكُونَ الْإِنَاءُ مُخْتَنِقًا لَا يَدْخُلُهُ الرِّيحُ، فَإِذَا نَقَصَ دَخَلَتْهُ وَقَصَّرَتْهُ (طَهُرَ) بِفَتْحِ الْهَاءِ أَفْصَحُ مِنْ ضَمِّهَا لِزَوَالِ سَبَبِ التَّنْجِيسِ، وَلَا يَضُرُّ عَوْدُ تَغَيُّرِهِ إنْ خَلَا عَنْ نَجَسٍ جَامِدٍ، وَيُعْرَفُ زَوَالُ تَغَيُّرِهِ التَّقْدِيرِيِّ بِأَنْ يَمْضِيَ عَلَيْهِ زَمَنٌ لَوْ كَانَ تَغَيُّرُهُ حِسِّيًّا لَزَالَ تَغَيُّرُهُ: وَذَلِكَ بِأَنْ يَكُونَ بِجَنْبِهِ غَدِيرٌ فِيهِ مَاءٌ مُتَغَيِّرٌ فَزَالَ تَغَيُّرُهُ بِنَفْسِهِ بَعْدَ مُدَّةٍ أَوْ بِمَاءٍ صُبَّ عَلَيْهِ، فَيُعْلَمُ أَنَّ هَذَا أَيْضًا زَالَ تَغَيُّرُهُ

بشرى الكريم ص 81
(فإن زال) يقيناً (تغيره) الحسي أو التقديري (بنفسه) لنحو مكث، أو هبوب ريح (أو بماء) ولو نجساً أو مستعملاً (طهر)؛ لزوال علة التنجيس، وهو التغيير وإن قل بعد، أو عاد تغييره، وقد خلا عن نجس جامد، ولم يقل أهل الخبرة: إنه من تلك النجاسة، وإلا فنجس، كما في “ب ج” عن “الايعاب”.

فتح المعين
والماء القليل إذا تنجس يطهر ببلوغه قلتين – ولو بماء متنجس – حيث لا تغير به، والكثير يطهر بزوال تغيره بنفسه أو بماء زيد عليه أو نقص عنه وكان الباقي كثيرا.

حاشية اعانة الطالبين ج 1 ص 44
وقوله: حيث لا تغير به أي يطهر بما ذكر، حيث لم يوجد فيه تغير لا حسا ولا تقديرا، فإن وجد فيه ذلك لم يطهر

Ingin bertanya permasalahan Agama? Kirimkan pertanyaan Anda kepada Tim Asatidz Tafaqquh Nyantri Yuk, klik http://tanya.nyantriyuk.id

BERBAGI YUK!

Silahkan disukai dan dibagikan, insya Allah bernilai ibadah, dan jadikan ladang pahala dalam menginfaqkan ilmu-ilmu Syari'ah. Hamba yang menunjukan kebaikan kepada orang lain maka dia juga akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukan kebaikan tersebut. Syukron :)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *