Menolak Aqidah Bahwa Allah Itu Bertempat

Allah Ada Tanpa Tempat

 

Dalam Aqidah kita “Ahlus Sunnah Wal Jamaah” diajarkan bahwa Allah swt itu ada dan berbeda dengan Makhluk dalam segala hal (مخالفة للحوادث)

Sesuai firman Allah swt :

 ﻫَﻞْ ﺗَﻌْﻠَﻢُ ﻟَﻪُ ﺳَـﻤِﻴًّﺎ ‏) ‏( ﺳﻮﺭﺓ ﻣﺮﻳﻢ : 65)

“Engkau tidaklah menemukan yang serupa dengan-Nya (Allah)”. (QS. Maryam: 65)

( ﻟَﻴْﺲَ ﻛَﻤِﺜْﻠِﻪِ ﺷَﻰﺀٌ ‏) ‏( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺸﻮﺭﻯ : 11 )

“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (QS. as-Syura: 11)

Allah swt tidak bertempat sebagaimana Makhluk, sebab bertempat adalah sifatnya Makhluk dan Allah swt berbeda dengan Makhluk.

Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib Ra berkata :

“ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﻻَ ﻣَﻜَﺎﻥَ ﻭَﻫُﻮَ ﺍْﻵﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻛَﺎﻥَ ”

“Allah ada (pada azal) dan tidak ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Disebutkan oleh Al Imam Abu Manshur Al Baghdadi dalam kitabnya Al Farq Bayn Al Firaq, hlm. 333).

Al Imam Al Baihaqi (w 458 H) juga menyebutkan dalam kitabnya Al Asma Was Shifat, hlm. 506 :

ﻗﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪ : “ ﺃﻧْﺖَ ﺍﻟﻈّﺎﻫِﺮُ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻓَﻮْﻗَﻚَ ﺷَﻰﺀٌ ﻭَﺃﻧْﺖَ ﺍﻟْﺒَﺎﻃِﻦُ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﺩُﻭْﻧَﻚَ ﺷَﻰﺀٌ ” ‏( ﺭَﻭَﺍﻩُ ﻣُﺴﻠﻢ ﻭَﻏﻴـﺮُﻩ )

“Engkau Ya Allah Ad Dzahir, tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu, dan Engkau Al Bathin, tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu (HR. Muslim dan lainnya).

Al-Imam Abu Ja’fa At Thahawi di dalam kitabnya Al Aqidah At Thahawiyyah (w 321 H) berkata:

 ﺗَﻌَﺎﻟَـﻰ ‏( ﻳَﻌْﻨِﻲ ﺍﻟﻠﻪَ ‏) ﻋَﻦِ ﺍﻟْﺤُﺪُﻭْﺩِ ﻭَﺍْﻟﻐَﺎﻳَﺎﺕِ ﻭَﺍْﻷﺭْﻛَﺎﻥِ ﻭَﺍﻷﻋْﻀَﺎﺀِ ﻭَﺍﻷﺩَﻭَﺍﺕِ ﻻَ ﺗَﺤْﻮِﻳْﻪِ ﺍﻟْﺠِﻬَﺎﺕُ ﺍﻟﺴِّﺖُّ ﻛَﺴَﺎﺋِﺮِ ﺍﻟْﻤُﺒْﺘَﺪَﻋَﺎﺕ”

“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah swt tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang); tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi oleh enam arah penjuru tersebut”.

 

Lalu bagaimana jika kita menemukan ayat Al Qur’an atau Hadits yang menunjukkan bahwa Allah swt serupa dengan Makhluk?

Misalnya seperti ayat

ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﺍﺳﺘﻮﻯ

Allah swt ber- Istiwa’ di atas Arsy.

(ayat ini seakan- akan menunjukkan bahwa Allah swt bertempat di Arsy, seperti Makhluk yang juga bertempat)

Dalam menyikapi ayat seperti itu, Ulama’ kita telah menyebutkan sebagaimana As Syaikh Ibrahim Al Laqqoni juga menyebutkan dalam kitabnya “Jauharotut Tauhid, bait ke 40” :

ﻭ ﻛﻞ ﻧﺺ ﺃﻭﻫﻢ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻬﺎ :: ﺃﻭﻟﻪ ﺃﻭ ﻓﻮﺽ ﻭ ﺭﻡ ﺗﻨﺰﻳﻬﺎ

“Dan setiap Nash yang dapat menimbulkan kesalahpahaman tentang penyerupaan Allah swt dengan makhluk, maka lakukanlah Ta’wil atau Tafwid dan hendaklah engkau bertujuan memaha bersihkan Allah swt dari sesuatu yang tidak pantas bagi-Nya”.

Dalam men-Syarahi bait tersebut, As Syaikh Ibrahim Al Baijuri menyebutkan di dalam Syarahnya “Tuhfatul Murid hlm. 156, cet. Darus Salam, Mesir :

Dalam menyikapi setiap Nash dari Al-Qur’an dan Hadits yang dihawatirkan dapat menimbulkan kesalahpaaman tentang penyerupaan Allah swt dengan makhluk, maka para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah berijtihad melakukan Ta’wil/ mengartikan dengan arti lain yang sesuai dengan kebesaran Allah swt.

Hanya saja ulama Salaf dengan “Madzhab As Salaf ( ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﺴﻠﻒ ) atau “Thariq As Salaf ( ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻟﺴﻠﻒ )”-nya berijtihad melakukan “Ta’wil Ijmali (Ta’wil Global)”, yaitu dengan cara mengartikan lafadz Nash secara Dzohirnya lafadz namun tidak meyakini Allah swt serupa dengan makhluk, dan menyerahkan kepada Allah swt tentang tujuan yang dimaksud oleh Nash tersebut (Tafwid).

Sedangkan, ulama Khalaf dengan “Madzhab Al Khalaf ( ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﺨﻠﻒ ) atau “Thariq Al Khalaf ( ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻟﺨﻠﻒ )”-nya berijtihad melakukan “Ta’wil Tafshili”, yaitu dengan cara menjelaskan makna yang dimaksud oleh Nash Al-Qur’an dan Hadits yang samar tersebut, sehingga jelas maksudnya dan tidak menyerupakan Allah swt dengan makhluk. Dengan demikian, umat Islam akan selamat dari kesalahpahaman dalam memahami Nash tersebut. Contoh:

ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﺍﺳﺘﻮﻯ

Ulama Khalaf mengatakan: Yang dimaksud dengan firman Allah ta’ala itu adalah “Al-Istila’ (artinya: Menguasai)” atau “Al-Mulku (artinya: Merajai)”.

Jalan Ta’wil yang dilakukan Ulama’ Kholaf ini sesuai dengan Firman Allah dalam Surat Ali ‘Imran :

ﻫُﻮَ ﭐﻟَّﺬِﻱۤ ﺃَﻧﺰَﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﭐﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻣِﻨْﻪُ ﺁﻳَﺎﺕٌ ﻣُّﺤْﻜَﻤَﺎﺕٌ ﻫُﻦَّ ﺃُﻡُّ ﭐﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺃُﺧَﺮُ ﻣُﺘَﺸَﺎﺑِﻬَﺎﺕٌ ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻓﻲ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ ﺯَﻳْﻎٌ ﻓَﻴَﺘَّﺒِﻌُﻮﻥَ ﻣَﺎ ﺗَﺸَﺎﺑَﻪَ ﻣِﻨْﻪُ ﭐﺑْﺘِﻐَﺎﺀَ ﭐﻟْﻔِﺘْﻨَﺔِ ﻭَﭐﺑْﺘِﻐَﺎﺀَ ﺗَﺄْﻭِﻳﻠِﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺗَﺄْﻭِﻳﻠَﻪُ ﺇِﻻَّ ﭐﻟﻠَّﻪُ ﻭَﭐﻟﺮَّﺍﺳِﺨُﻮﻥَ ﻓِﻲ ﭐﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺁﻣَﻨَّﺎ ﺑِﻪِ ﻛُﻞٌّ ﻣِّﻦْ ﻋِﻨﺪِ ﺭَﺑِّﻨَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺬَّﻛَّﺮُ ﺇِﻻَّ ﺃُﻭْﻟُﻮﺍْ ﭐﻷَﻟْﺒَﺎﺏِ

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang Muhkamaat [183], itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) Mutasyaabihaat [184]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang Mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari Ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui Ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang Mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”

*Berikut ini adalah ungkapan para Ulama’ yang menyatakan Allah swt tidak bertempat :

Al Imam ‘Ali bin Abi Thalib (w 40 H) berkata:

ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﻻَ ﻣَﻜَﺎﻥ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻵﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻋَﻠﻴْﻪ ﻛَﺎﻥَ

“Allah swt ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, dan Dia Allah sekarang -setelah menciptakan tempat- tetap sebagaimana pada sifat-Nya yang azali; ada tanpa tempat” (Diriwayatkan oleh Al Imam Abu Manshur Al Baghdadi dalam Al Farq Bain Al Firaq, hlm. 333).

Beliau juga berkata:

ﺇﻥّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﻌَﺮْﺵَ ﺇْﻇﻬَﺎﺭًﺍ ﻟِﻘُﺪْﺭَﺗﻪِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺘّﺨِﺬْﻩُ ﻣَﻜَﺎﻧًﺎ ﻟِﺬَﺍﺗِﻪِ

“Sesungguhnya Allah swt menciptakan ‘Arsy untuk menampakan kekuasaan-Nya, bukan untuk menjadikan tempat bagi Dzat-Nya” (Diriwayatkan oleh Al Imam Abu Manshur Al Baghdadi dalam Al Farq Bain Al Firaq, hlm. 333).

Al Imam Zainal-‘Abidin ‘Ali ibn Al Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib (w 94 H) berkata:

ﺃﻧْﺖَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍﻟّﺬِﻱ ﻻَ ﻳَﺤْﻮﻳْﻚَ ﻣَﻜَﺎﻥٌ

“Engkau wahai Allah yang tidak diliputi oleh tempat” (Diriwayatkan oleh Al Imam Murtadla Az Zabidi dalam Ithaf As Sadah Al Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, Juz 4, hlm. 380).

Beliau juga berkata:

ﺃﻧْﺖَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍﻟّﺬِﻱ ﻻَ ﺗُﺤَﺪُّ ﻓَﺘَﻜُﻮْﻥَ ﻣَﺤْﺪُﻭْﺩًﺍ

“Engkau wahai Allah yang maha suci dari segala bentuk dan ukuran” (Diriwayatkan oleh Al Imam Murtadla Az Zabidi dalam Ithaf As Sadah Al Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, Juz 4, h. 380).

Al-Imam Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Zainal ‘Abidin ‘Ali bin Al Husain (w 148 H) berkata:

ﻣَﻦْ ﺯَﻋَﻢَ ﺃﻥّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻓِﻲ ﺷَﻰﺀٍ ﺃﻭْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰﺀٍ ﺃﻭْ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻰﺀٍ ﻓَﻘَﺪْ ﺃﺷْﺮَﻙَ، ﺇﺫْ ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻰﺀٍ ﻟَﻜَﺎﻥَ ﻣَﺤْﻤُﻮْﻻً ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻲ ﺷَﻰﺀٍ ﻟَﻜَﺎﻥَ ﻣَﺤْﺼُﻮْﺭًﺍ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﺷَﻰﺀٍ ﻟَﻜَﺎﻥَ ﻣُﺤْﺪَﺛًﺎ ‏( ﺃﻯْ ﻣَﺨْﻠُﻮْﻗًﺎ )

“Barang siapa berkeyakinan bahwa Allah berada di dalam sesuatu, atau dari sesuatu, atau di atas sesuatu maka ia adalah seorang yang Musyrik. Karena jika Allah swt berada di atas sesuatu maka berarti Dia diangkat, dan bila berada di dalam sesuatu berarti Dia terbatas, dan bila Dia dari sesuatu maka berarti Dia baru -Makhluk-” (Diriwayatkan oleh Al Imam Al Qusyairi dalam Ar Risalah Al Qusyairiyyah, hlm. 6).

Al Imam Al Mujtahid Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit (w 150 H), salah seorang ulama salaf terkemuka, perintis Madzhab Hanafi, berkata:

ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟﻰ ﻳُﺮَﻯ ﻓِﻲ ﺍﻵﺧِﺮَﺓ، ﻭَﻳَﺮَﺍﻩُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮْﻥَ ﻭَﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨّﺔِ ﺑِﺄﻋْﻴُﻦِ ﺭُﺅُﻭﺳِﻬِﻢْ ﺑﻼَ ﺗَﺸْﺒِﻴْﻪٍ ﻭَﻻَ ﻛَﻤِّﻴَّﺔٍ ﻭَﻻَ ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﺑَﻴْﻨَﻪُ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺧَﻠْﻘِﻪِ ﻣَﺴَﺎﻓَﺔ .

“Allah ta’ala di Akhirat kelak akan dilihat. Orang-orang Mukmin akan melihat-Nya ketika mereka di surga dengan mata kepala mereka masing-masing dengan tanpa adanya keserupaan bagi-Nya, bukan sebagai bentuk yang berukuran, dan tidak ada jarak antara mereka dengan Allah (artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak di dalam atau di luar surga, tidak di atas, bawah, belakang, depan, samping kanan ataupun samping kiri)” (Lihat Al Fiqhul Akbar karya Imam Abu Hanifah dengan Syarahnya karya Mulla ‘Ali al-Qari, hlm. 136-137).

Beliau juga berkata:

ﻗُﻠْﺖُ : ﺃﺭَﺃﻳْﺖَ ﻟَﻮْ ﻗِﻴْﻞَ ﺃﻳْﻦَ ﺍﻟﻠﻪُ؟ ﻳُﻘَﺎﻝُ ﻟَﻪُ : ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻭَﻻَ ﻣَﻜَﺎﻥَ ﻗَﺒْﻞَ ﺃﻥْ ﻳَﺨْﻠُﻖَ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖَ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺃﻳْﻦ ﻭَﻻَ ﺧَﻠْﻖٌ ﻭَﻻَ ﺷَﻰﺀٌ، ﻭَﻫُﻮَ ﺧَﺎﻟِﻖُ ﻛُﻞّ ﺷَﻰﺀٍ .

“Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu” (Lihat Al Fiqhul Absath karya Imam Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalahnya dengan Tahqiq Muhammad Zahid Al Kautsari, hlm. 20).

Beliau juga berkata:

ﻭَﻧُﻘِﺮّ ﺑِﺄﻥّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻌَﺮْﺵِ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺃﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﻟَﻪُ ﺣَﺎﺟَﺔٌ ﺇﻟﻴْﻪِ ﻭَﺍﺳْﺘِﻘْﺮَﺍﺭٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻭَﻫُﻮَ ﺣَﺎﻓِﻆُ ﺍﻟﻌَﺮْﺵِ ﻭَﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟﻌَﺮْﺵِ ﻣِﻦْ ﻏَﺒْﺮِ ﺍﺣْﺘِﻴَﺎﺝٍ، ﻓَﻠَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺤْﺘَﺎﺟًﺎ ﻟَﻤَﺎ ﻗَﺪَﺭَ ﻋَﻠَﻰ ﺇﻳْﺠَﺎﺩِ ﺍﻟﻌَﺎﻟَﻢِ ﻭَﺗَﺪْﺑِﻴْﺮِﻩِ ﻛَﺎﻟْﻤَﺨْﻠُﻮﻗِﻲَﻥْ، ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺤْﺘَﺎﺟًﺎ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟﺠُﻠُﻮْﺱِ ﻭَﺍﻟﻘَﺮَﺍﺭِ ﻓَﻘَﺒْﻞَ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟﻌَﺮْﺵِ ﺃﻳْﻦَ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪ، ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﻋُﻠُﻮّﺍ ﻛَﺒِﻴْﺮًﺍ .

“Dan kita mengimani adanya ayat “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa” -sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an- dengan menyakini bahwa Allah tidak membutuhkan kepada ‘‘Arsy tersebut dan tidak bertempat atau bersemayam di atasnya. Dia Allah yang memelihara ‘‘Arsy dan lainnya tanpa membutuhkan kepada itu semua. Karena jika Allah membutuhkan kepada sesuatu maka Allah tidak akan kuasa untuk menciptakan dan mengatur alam ini, dan berarti Dia seperti seluruh makhluk-Nya sendiri. Jika membutuhkan kepada duduk dan bertempat, lantas sebelum menciptakan makhluk-Nya -termasuk ‘arsy- di manakah Dia? Allah maha suci dari itu semua dengan kesucian yang agung” (Lihat Al Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah Tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, hlm. 2. juga dikutip oleh Asy-Syekh Mullah ‘Ali al-Qari dalam Syarh Al-Fiqhul Akbar, hlm. 70.).

 

 Zean Areev dan Team Tafaqquh dari berbagai sumber.

Ingin bertanya permasalahan Agama? Kirimkan pertanyaan Anda kepada Tim Asatidz Tafaqquh Nyantri Yuk, klik http://tanya.nyantriyuk.id

BERBAGI YUK!

Silahkan disukai dan dibagikan, insya Allah bernilai ibadah, dan jadikan ladang pahala dalam menginfaqkan ilmu-ilmu Syari'ah. Hamba yang menunjukan kebaikan kepada orang lain maka dia juga akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukan kebaikan tersebut. Syukron :)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *