Syarat Mengqoshor Shalat Berdasar Jarak Tempuh Atau Waktu Tempuh?

Pertanyaan: Disebutkan bahwa seseorang boleh mengqoshor shalat bila jarak perjalanannya lebih dari 83 km. Ketika kita melakukan perjalanan dengan kendaraan super cepat sehingga waktu tempuh menjadi lebih pendek, apakah syarat mengqoshor shalat tadi tetap dihitung berdasarkan jarak tempuh atau waktu tempuh perjalanannya?

Jawaban :

Orang yang melakukan Safar sejauh 2 Marhalah/ 83 km diperbolehkan tidak berpuasa dan meng-Qoshor Shalat apabila Syarat- syaratnya sudah terpenuhi. Demikian ini meskipun waktu yang ditempuh adalah sangat sebentar, sebab yang dianggap dalam masalah ini adalah jarak tempuhnya, bukan waktu lamanya Safar. (Zean Areev)


الاقناع ج 1 ص 171
وَهِي (سِتَّة عشر فرسخا) وَلَو قطع هَذِه الْمسَافَة فِي لَحْظَة فِي بر أَو بَحر فقد كَانَ ابْن عمر وَابْن عَبَّاس يقصران ويفطران فِي أَرْبَعَة برد وَمثله إِنَّمَا يفعل عَن تَوْقِيف

نهاية المحتاج ج 2 ص 260
(فَلَوْ قَطَعَ الْأَمْيَالَ فِيهِ فِي سَاعَةٍ مَثَلًا) لِشِدَّةِ جَرْيِ السَّفِينَةِ بِالْهَوَاءِ وَنَحْوِهِ (قَصَرَ) فِيهَا لِوُجُودِ الْمَسَافَةِ الصَّالِحَةِ لَهُ، وَلَا يَضُرُّ قَطْعُهَا فِي زَمَنٍ يَسِيرٍ (وَاَللَّهُ أَعْلَمُ) كَمَا لَوْ قَطَعَهَا فِي الْبَرِّ فِي بَعْضِ يَوْمٍ عَلَى مَرْكُوبٍ جَوَادٍ، وَلَعَلَّ وَجْهَ هَذَا التَّفْرِيعِ بَيَانُ أَنَّ اعْتِبَارَ قَطْعِ هَذِهِالْمَسَافَةِ فِي الْبَحْرِ فِي زَمَنٍ يَسِيرٍ غَيْرُ مُؤَثِّرٍ فِي لُحُوقِهِ بِالْبَرِّ فِي اعْتِبَارِهَا مُطْلَقًا، فَانْدَفَعَ مَا قَدْ يُقَالُ قَطْعُ الْمَسَافَةِ غَيْرُ مُعْتَبَرٍ حَتَّى يُحْتَاجَ لِذَكَرِ ذَلِكَ بَلْ الْعِبْرَةُ بِقَصْدِ مَوْضِعٍ عَلَيْهَا بِدَلِيلِ قَصْرِهِ بِمُجَرَّدِ ذَلِكَ قَبْلَ قَطْعِشَيْءٍ مِنْهَا


(Hasil Bahtsul Masail Tim Kupas Tuntas Masalah Agama Tafaqquh Surakarta, Bab Puasa, pada Selasa, 15 Sya’ban 1439 H/ 01 Mei 2017 M, bertempat di Masjid Al Ma’rifat Grogol, Sukoharjo)

Ingin bertanya permasalahan Agama? Kirimkan pertanyaan Anda kepada Tim Asatidz Tafaqquh Nyantri Yuk, klik http://tanya.nyantriyuk.id

BERBAGI YUK!

Silahkan disukai dan dibagikan, insya Allah bernilai ibadah, dan jadikan ladang pahala dalam menginfaqkan ilmu-ilmu Syari'ah. Hamba yang menunjukan kebaikan kepada orang lain maka dia juga akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukan kebaikan tersebut. Syukron :)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *