Tidak Pernah Ikut Berpuasa Kemudian Tobat, Bolehkah Mengqodho Puasanya?

Pertanyaan: Ada seorang pemuda pada setiap Ramadhan tidak pernah ikut berpuasa, kemudian ia tobat dan mau menjalankan ibadah puasa. Apakah pemuda itu berhak mengqodho puasanya yang pernah ia tinggalkan?

 

Jawaban :

Orang yang dari muda tidak pernah berpuasa, apabila kemudian ia bertaubat maka ia harus berusaha mengkalkulasi (menghitung) terlebih dahulu berapa kali ia tidak berpuasa, kemudian setelah jumlahnya diketahui maka ia harus meng-Qodho’inya.

Selain itu, ia harus membayar Fidyah untuk setiap puasa yang terlambat di-Qodho sampai datang bulan Ramadhan setelahnya (Fidyah untuk 1 puasa adalah 7 ons beras yang diberikan kepada Faqir Miskin), dan Fidyah ini juga menjadi berlipat sesuai dengan berlipat nya Ramadhan yang datang setelahnya. (Zean Areev)


احياء علوم الدين ج 4 ص 34
فإن كان قد ترك صلاة او صلاها في ثوب نجس أو صلاها في بنية غير صحيحة لجهلة بشرط النية فيقضيها عن آخرها فإن شك في عدد ما فاته منها حسب من مدة بلوغه وترك القدر الذي يستيقن انه أداه ويقضي الباقي وله أن ياخذ فيه بغالب الظن ويصل إليه على سبيل التحري والاجتهاد. وأما الصوم فإن كان قد تركه في سفر ولم يقضه أو أفطر عمداً أو نسى النبة بالليل ولم يقض فيتعرف مجموع ذلك بالتحرى والاجتهاد ويشتغل بقضائه

عمدة السالك ص 117
ومنْ لزمهُ قضاءُ شيءٍ منْ رمضانَ يندبُ لهُ أنْ يقضيَهُ متتابعاً على الفورِ، ولا يجوزُ أنْ يؤخرَ القضاءَ إلى رمضان آخرَ بغيرِ عذرٍ، فإنْأخَّرَ لزمهُ معَ القضاءِ عنْ كلِّ يومٍ مدُّ طعامٍ، فإنْ أخرَ رمضانينِ فمدانِ، وهكذا يتكررُ بتكررِ السنينَ، ومنْ ماتَ وعليهِ صومٌ تمكَّنَ منْ فعلهِ، أطعمَ عنهُ عنْ كلِّ يومٍ مدَّ طعامٍ.


(Hasil Bahtsul Masail Tim Kupas Tuntas Masalah Agama Tafaqquh Surakarta, Bab Puasa, pada Selasa, 15 Sya’ban 1439 H/ 01 Mei 2017 M, bertempat di Masjid Al Ma’rifat Grogol, Sukoharjo)

Ingin bertanya permasalahan Agama? Kirimkan pertanyaan Anda kepada Tim Asatidz Tafaqquh Nyantri Yuk, klik http://tanya.nyantriyuk.id

BERBAGI YUK!
  •   
  • 478
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Silahkan disukai dan dibagikan, insya Allah bernilai ibadah, dan jadikan ladang pahala dalam menginfaqkan ilmu-ilmu Syari'ah. Hamba yang menunjukan kebaikan kepada orang lain maka dia juga akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukan kebaikan tersebut. Syukron :)

2 thoughts on “Tidak Pernah Ikut Berpuasa Kemudian Tobat, Bolehkah Mengqodho Puasanya?

    1. Jawaban :

      Apabila orang yang berkewajiban membayar Fidyah ternyata miskin atau banyak hutang, maka kewajiban Fidyah baginya tetap tidak gugur, akan tetapi tetap menjadi hutang baginya/ tanggungan baginya yang harus dibayar ketika sudah mampu.

      Perkataan Imam An Nawawi di dalam Al Majmuk memang menuntut bahwa yang Ashoh seharusnya kewajiban membayar Fidyah ini menjadi gugur bagi orang yang tidak mampu, sebab masalah ini sama dengan Zakat Fitrah, dimana ketika datang waktu kewajibannya dan saat itu belum ada kemampuan untuk membayarnya maka kewajiban tersebut menjadi gugur.

      Tapi pendapat tersebut di tolak, sebab tanggungan kepada Allah swt yang bersifat harta apabila belum bisa ditunaikan, maka tanggungan tetsebut tetap menjadi tanggungan sampai datangnya kemampuan.

      Maka, orang yang berkewajiban membayar Fidyah dan saat itu ia banyak hutang, maka kewajiban Fidyah tidak gugur baginya, sebab Fidyah juga hutang atau Hak Allah swt yang juga harus ditunaikan ketika mampu. (Zean Areev)

      اسني المطالب ج 1 ص 428
      (فَإِذَا عَجَزَ) عَنْ الْفِدْيَةِ (ثَبَتَتْ فِي ذِمَّتِهِ) كَالْكَفَّارَةِ وَكَالْقَضَاءِ فِي حَقِّ الْمَرِيضِ وَالْمُسَافِرِ هَذَا مَا اقْتَضَاهُ كَلَامُ الْأَصْلِ لَكِنْ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ الْأَصَحُّ هُنَا عَكْسَهُ كَالْفِطْرَةِ لِأَنَّهُ عَاجِزٌ حَالَ التَّكْلِيفِ بِالْفِدْيَةِ وَلَيْسَتْ فِي مُقَابَلَةِ جِنَايَةٍ وَنَحْوِهَا وَمَا بَحَثَهُ جَزَمَ بِهِ الْقَاضِي وَهُوَ مَرْدُودٌ بِمَا مَرَّ أَنَّ حَقَّ اللَّهِ تَعَالَى الْمَالِيَّ إذَا عَجَزَ عَنْهُ الْعَبْدُ وَقْتَ الْوُجُوبِ يَثْبُتُ فِي ذِمَّتِهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَى جِهَةِ الْبَدَلِ إذَا كَانَ بِسَبَبٍ مِنْهُ وَهُوَ هُنَا كَذَلِكَ إذْ سَبَبُهُ فِطْرُهُ بِخِلَافِ زَكَاةِ الْفِطْرِ، وَالتَّصْرِيحُ بِثُبُوتِ الْفِدْيَةِ فِي ذِمَّةِ الزَّمِنِ مِنْ زِيَادَةِ الْمُصَنِّفِ

      نهاية المحتاج ج 3 ص 193
       وَقَضِيَّةُ كَلَامِهِمَا أَنَّ مَنْ ذُكِرَ إذَا عَجَزَ عَنْ الْفِدْيَةِ ثَبَتَتْ فِي ذِمَّتِهِ كَالْكَفَّارَةِ وَهُوَ كَذَلِكَ، وَمَا بَحَثَهُ فِي الْمَجْمُوعِ مِنْ أَنَّهُ يَنْبَغِي هُنَا عَكْسُهُ كَالْفِطْرَةِ لِأَنَّهُ عَاجِزٌ حَالَ التَّكْلِيفِ بِالْفِدْيَةِ وَلَيْسَتْ فِي مُقَابَلَةِ جِنَايَةٍ وَنَحْوِهَا رُدَّ بِأَنَّ حَقَّ اللَّهِ تَعَالَى الْمَالِيَّ إذَا عَجَزَ عَنْهُ الْعَبْدُ وَقْتَ الْوُجُوبِ اسْتَقَرَّ فِي ذِمَّتِهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَى جِهَةِ الْبَدَلِ إذَا كَانَ بِسَبَبٍ مِنْهُ وَهُوَ هُنَا كَذَلِكَ إذْ سَبَبُهُ فِطْرُهُ بِخِلَافِ زَكَاةِ الْفِطْرِ

      (USTADZ ZEAN AREEV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *