Hadist Tentang Tarawih 20 Rokaat

Pertanyaan : mau tanya, itu di sohih bukhori
Tentang sholat tarawih zaman sayidina umar apa bisa di katakan hadis sohih? Setahu saya itu bukan hadis mauquf, terus hadits tarawih 20, itu istilahnya hadits mauquf atau bagaimana? Mohon dirincikan jawaban tentang hadits mauquf sholat tarowih pada Shohih Bukhory di atas. Bisakah dijadikan sebagai pegangan mengingat hadits yang terkait adalah hadits mauquf.

 

Jawaban :

Dalil Tarawih 20 Rakaat
Mayoritas ulama berpendapat bahwa bilangan rakaat shalat Tarawih yang paling afdhal adalah dua puluh rakaat.
Berikut ini adalah dalil-dalil yang di jadikan pijakan untuk mendukung pendapat tersebut.

1. Hadits mauquf

ﻭﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﺷﻬﺎﺏ ﻋﻦ ﻋﺮﻭﺓ ﺑﻦ ﺍﻟﺰﺑﻴﺮ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻘﺎﺭﻱ، ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ : ﺧَﺮَﺟْﺖ ﻣَﻊَ ﻋُﻤَﺮَ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﺨَﻄَّﺎﺏِ ﻟَﻴْﻠَﺔً ﻓِﻲ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺃَﻭْﺯَﺍﻉٌ ﻣُﺘَﻔَﺮِّﻗُﻮﻥَ ، ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻪِ ، ﻭَﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻓَﻴُﺼَﻠِّﻲ ﺑِﺼَﻠَﺎﺗِﻪِ ﺍﻟﺮَّﻫْﻂُ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻋُﻤَﺮُ : ﺇﻧِّﻲ ﺃَﺭَﻯ ﻟَﻮْ ﺟَﻤَﻌْﺖُ ﻫَﺆُﻟَﺎﺀِ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﺎﺭِﺉٍ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﻟَﻜَﺎﻥَ ﺃَﻣْﺜَﻞَ ، ﺛُﻢَّ ﻋَﺰَﻡَ ﻓَﺠَﻤَﻌَﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺃُﺑَﻲِّ ﺑْﻦِ ﻛَﻌْﺐٍ . ﺛُﻢَّ ﺧَﺮَﺟْﺖ ﻣَﻌَﻪُ ﻟَﻴْﻠَﺔً ﺃُﺧْﺮَﻯ ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻳُﺼَﻠُّﻮﻥَ ﺑِﺼَﻠَﺎﺓِ ﻗَﺎﺭِﺋِﻬِﻢْ . ﻗَﺎﻝَ ﻋُﻤَﺮُ : ﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﺒِﺪْﻋَﺔُ ﻫَﺬِﻩِ …

“Diriwayatkan dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah bin al-Zubair, dari Abd. Rahman bin Abd. al-Qari, ia berkata: “Pada suatu malam di bulan Ramadhan, saya keluar ke masjid bersama Umar bin al-Khatthab. Kami mendapati masyarakat terbagi menjadi beberapa kelompok yang terpisah-pisah. Sebagian orang ada yang shalat sendirian. Sebagian yang lain melakukan shalat berjamaah dengan beberapa orang saja.
Kemudian Umar berkata: “Menurutku akan lebih baik jika aku kumpulkan mereka pada satu imam.” Lalu Umar berketetapan dan mengumpulkan mereka pada Ubay bin Ka’ab. Pada kesempatan malam yang lain, aku (Rahman bin Abd. al-Qari) keluar lagi bersama Umar. (dan aku menyaksikan) masyarakat melakukan shalat secara berjamaah mengikuti imamnya. Umar berkata: “Ini adalah sebaik-baik bid’ah…” (HR. Bukhari).
Di dalam hadis yang lain disebutkan, bilangan rakaat shalat Tarawih yang dilaksanakan pada masa Khalifah Umar bin al-Khatthab adalah dua puluh.

ﻋَﻦْ ﺍﻟﺴَّﺎﺋِﺐِ ﺑْﻦِ ﻳَﺰِﻳﺪَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ، ﻗَﺎﻝَ : ‏( ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻘُﻮﻣُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻬْﺪِ ﻋُﻤَﺮَ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﺨَﻄَّﺎﺏِ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻓِﻲ ﺷَﻬْﺮِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺑِﻌِﺸْﺮِﻳﻦَ ﺭَﻛْﻌَﺔً .

“Diriwayatkan dari al-Sa’ib bin Yazid radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata : “Mereka (para shahabat) melakukan qiyam Ramadhan pada masa Umar bin al-Khatthab sebanyak dua puluh rakaat.”
Hadis kedua ini diriwayatkan oleh Imal al-Baihaqi di dalam al-Sunan al-Kubro, I/496. dengan sanad yang shahih sebagaimana dinyatakan oleh Imam al-‘Aini, Imam al-Qasthallani, Imam al-Iraqi, Imam al-Nawawi, Imam al-Subki, Imam al-Zaila’i, Imam Ali al-Qari, Imam al-Kamal bin al-Hammam dan lain-lain. (10)
Menurut disiplin ilmu hadis, hadis ini di sebut hadis mauquf (Hadis yang mata rantainya berhenti pada shahabat dan tidak bersambung pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam). Walaupun mauquf, hadis ini dapat dijadikan sebagai hujjah dalam pengambilan hukum (lahu hukmu al-marfu’). Karena masalah shalat Tarawih termasuk jumlah rakaatnya bukanlah masalah ijtihadiyah (laa majala fihi li al-ijtihad), bukan pula masalah yang bersumber dari pendapat seseorang (laa yuqolu min qibal al-ra’yi). (11)

2. Ijma’ para shahabat Nabi
Ketika Sayyidina Ubay bin Ka’ab mengimami shalat Tarawih sebanyak dua puluh rakaat, tidak ada satupun shahabat yang protes, ingkar atau menganggap bertentangan dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Apabila yang beliau lakukan itu menyalahi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, mengapa para shahabat semuanya diam? Ini menunjukkan bahwa mereka setuju dengan apa yang dilakukan oleh Sayyidina Ubay bin Ka’ab. Anggapan bahwa mereka takut terhadap Sayyidina Umar bin al-Khatthab adalah pelecehan yang sangat keji terhadap para shahabat. Para shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah orang-orang yang terkenal pemberani dan tak kenal takut melawan kebatilan, orang-orang yang laa yakhofuna fi Allah laumata laa’im. Bagaimana mungkin para shahabat sekaliber Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sayyidina Utsman bin Affan, Sayyidina Abu Hurairah, Sayyidah A’isyah dan seabrek shahabat senior lainnya (radhiyallahu ‘anhum ajma’in) kalah berani dengan seorang wanita yang berani memprotes keras kebijakan Sayyidina Umar bin al-Khatthab yang dianggap bertentangan dengan Al-Qur’an ketika beliau hendak membatasi besarnya mahar? (12)
Konsensus (ijma’) para shahabat ini kemudian diikuti oleh para tabi’in dan generasi setelahnya. Di masjid al-Haram Makkah, semenjak masa Khalifah Umar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu hingga saat ini, shalat Tarawih selalu dilakukan sebanyak dua puluh rakaat.

Referensi :

(10) Abd. Qadir Isa Diyab, op.cit., hal. 242. Dr. Yusuf Khatthar Muhammad, op.cit., hal. 632. KH. Ali Mustafa Yaqub, op.cit., hal. 148.
(11) Abdur Rahman al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi, Beirut : Dar al-Fikr, 1414 H/1993 M, hal. 121. KH. Ali Mustafa Yaqub, op.cit., hal. 149.
(12) KH. Ali Mustafa Yaqub, loc.cit. menukil dari Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-Adzim, Riyadh : Dar ‘Alam al-Kutub, 1418/1998, I/571.

Hadits mauquf tersebut telah sampai ke derajat shohih dengan persyaratan sebagaimana yang telah di jelaskan di kitab2 mustolah hadits, dan yang perlu di perhatikan kembali adalah hadits mauquf tersebut menyebutkan jumlah rakaaatnya bukan masalah boleh tidaknya sholat tarawih ( ijtihady )
Sehingga hadits mauquf tersebut boleh dan bisa fi jadikan hujjah..

Adapun syarat hadits marfu’ atau mauquf di katakan sampai ke derajat shohih apabila memang memenuhi 5 kriteria hadits shohih :

1.Sanadnya muttasil ( bersambung )
2.Tidak syadz
3.Tidak kemasukan ilat
4.Sifat adilnya para rowi
5.Dhobithnya para rowi

Hadits itu shohih jika memenuhi lima hal
1. Sanadnya muttasil (sambung dari awal sampai puncak)
2. Tidak ada syudzudz (syudzudz adalah rowinya menyelisihi rowi yang lebih unggul)
3. Tidak ada ‘illat (illat adalah cacat seperti irsal khofiy atau fasiqnya rowi)
4. Rowi-rowinya ‘adil (rowi yang adil adalah muslim , ‘aqil , baligh , tidak fasiq , bukan ahli bid’ah)
5. Rowi-rowinya harus dlobith mu’tamad (daya ingat yang sangat tajam , tulisan yang teliti).

Mandhumah Al-Baiquniy Syaikh ‘Umar bin Syaikh Futuh ad-Dimasyq
iyy asy-Syafi’iy

ﻣﻨﻈﻮﻣﺔ ﺍﻟﺒﻴﻘﻮﻧﻲ ﻓﻲ ﻋﻠﻢ ﻣﺼﻄﻠﺢ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻟﻠﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﻤﺮ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻓﺘﻮﺡ ﺍﻟﺪﻣﺸﻘﻲ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ
ﺃﻭﻟﻬﺎ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻭ ﻫﻮ ﻣﺎ ﺍﺗﺼﻞ :: ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﻭ ﻟﻢ ﻳﺸﺬ ﻭ ﻟﻢ ﻳﻌﻞ
ﻳﺮﻭﻳﻪ ﻋﺪﻝ ﺿﺎﺑﻂ ﻋﻦ ﻣﺜﻠﻪ :: ﻣﻌﺘﻤﺪ ﻓﻲ ﺿﺒﻄﻪ ﻭ ﻧﻘﻠﻪ

[ A.D ]

 

Hadits Tarawih 20 rakaat tersebut statusnya adalah Hadits Mauquf yang memiliki hukum seperti Marfu’. Sebab meskipun Hadits tersebut (jumlah Shalat Tarawih) hanya sampai pada Sayyidina Umar, akan tetapi hukumnya sama dengan Hadits yang sampai kepada Nabi saw. Sebab penentuan 20 rakaat dalam Tarawih tidak mungkin hasil Ijtihad dari Sayyidina Umar, sebab hal itu bukan lahan yang bisa ditetapkan dengan Ijtihad atau penelitian

Hadits tersebut bisa dipakai untuk Hujjah/ dalil Tarawih 20 rakaat sebagaimana Imam An Nawawi di dalam Al Majmuknya menyebutkan dalil seperti itu.

صحيح البخاري
ﺭﻗﻢ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ : 1880
‏( ﺣﺪﻳﺚ ﻣﻮﻗﻮﻑ ‏) ‏( ﺣﺪﻳﺚ ﻣﻮﻗﻮﻑ ‏) ﻭَﻋَﻦِ ﻭَﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﺷِﻬَﺎﺏٍ ، ﻋَﻦْ
ﻋُﺮْﻭَﺓَ ﺑْﻦِ ﺍﻟﺰُّﺑَﻴْﺮِ ، ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪٍ ﺍﻟْﻘَﺎﺭِﻱِّ ، ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ ” : ﺧَﺮَﺟْﺖُ ﻣَﻊَ ﻋُﻤَﺮَ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﺨَﻄَّﺎﺏِ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻟَﻴْﻠَﺔً ﻓِﻲ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺃَﻭْﺯَﺍﻉٌ ﻣُﺘَﻔَﺮِّﻗُﻮﻥَ ، ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻪِ ، ﻭَﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻓَﻴُﺼَﻠِّﻲ ﺑِﺼَﻠَﺎﺗِﻪِ ﺍﻟﺮَّﻫْﻂُ ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻋُﻤَﺮُ: ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺭَﻯ ﻟَﻮْ ﺟَﻤَﻌْﺖُ ﻫَﺆُﻟَﺎﺀِ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﺎﺭِﺉٍ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﻟَﻜَﺎﻥَ ﺃَﻣْﺜَﻞَ ، ﺛُﻢَّ ﻋَﺰَﻡَ ﻓَﺠَﻤَﻌَﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺃُﺑَﻲِّ ﺑْﻦِ ﻛَﻌْﺐٍ ، ﺛُﻢَّ ﺧَﺮَﺟْﺖُ ﻣَﻌَﻪُ ﻟَﻴْﻠَﺔً ﺃُﺧْﺮَﻯ ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻳُﺼَﻠُّﻮﻥَ ﺑِﺼَﻠَﺎﺓِ ﻗَﺎﺭِﺋِﻬِﻢْ ، ﻗَﺎﻝَ ﻋُﻤَﺮُ : ﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﺒِﺪْﻋَﺔُ ﻫَﺬِﻩِ ، ﻭَﺍﻟَّﺘِﻲ ﻳَﻨَﺎﻣُﻮﻥَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻳَﻘُﻮﻣُﻮﻥَ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﺁﺧِﺮَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻳَﻘُﻮﻣُﻮﻥَ ﺃَﻭَّﻟَﻪُ “

التقريرات السنية شرح منظومة البيقونية
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻤﻮﻗﻮﻑ :
ﻭﻣﺎ ﺃﻱ ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺿﻔﺘﻪ ﺍﻟﻰ ﺟﻨﺲ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ ﻓﺎﻟﻼﻡ ﻟﻠﺠﻨﺲ ﻣﺒﻄﻠﺔ ﻟﻤﻌﻨﻰ ﺍﻟﺠﻤﻌﻴﺔ ﺃﻱ ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻤﻀﺎﻑ ﺇﻟﻰ ﺻﺤﺎﺑﻲ ﺳﻮﺍﺀ ﺍﺗﺼﻞ ﺍﺳﻨﺎﺩﻩ ﺍﻟﻴﻪ ﺃﻡ ﺍﻟﻴﻪ ﺃﻡ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﻭﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻣﻦ ﻗﻮﻝ ﺃﻱ ﻟﻠﺼﺤﺎﺑﻲ ﻛﻘﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻛﺬﺍ ﻭﻓﻌﻞ ﻛﺄﻭﺗﺮ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪﺍﺑﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻔﺮ ﻓﻬﻮ ﻣﻮﻗﻮﻑ ﺯﻛﻦ ﺃﻱ ﻋﻠﻢ ﻋﻨﺪﻫﻢ
ﻟﻜﻦ ﺇﻥ ﺧﻼ ﻋﻦ ﻗﺮﻳﻨﺔ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﻓﻊ ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪﺕ ﺑﺄﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻼﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻴﻪ ﻣﺪﺧﻞ ﻓﻬﻮ ﻓﻲ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻤﺮﻓﻮﻉ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻛﺎﻥ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻭﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﻳﻘﺼﺮﺍﻥ ﻭﻳﻘﻄﺮﺍﻥ ﻓﻲ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺑﺮﺩ ﻓﻤﺜﻞ ﻫﺬﺍ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻦ ﺟﻬﺔ ﺍﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻧﻌﻢ ﻣﺎ ﻳﻀﺎﻑ ﺇﻟﻰ ﺗﺎﺑﻌﻲ ﻳﺴﺘﻌﻤﻞ ﻣﻮﻗﻮﻓﺎ ﻣﻘﻴﺪﺍ ﻓﻴﻘﺎﻝ ﻣﻮﻗﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﻤﺴﻴﺐ ﻣﺜﻼ

المجموع شر المهذب ج ٤ ص ٣٣
واحتج اصحابنا بما رواه البيهقي وغيره بالإسناد الصحيح عن السائب بن يزيد الصحابي رضي الله عنه قال: كانوا يقومون على عهد عمر بن الخطاب رضي الله عنه في شهر رمضان بعشرين ركعة الخ…

[ Zean Areev ]

Ingin bertanya permasalahan Agama? Kirimkan pertanyaan Anda kepada Tim Asatidz Tafaqquh Nyantri Yuk, klik http://tanya.nyantriyuk.id

BERBAGI YUK!

Silahkan disukai dan dibagikan, insya Allah bernilai ibadah, dan jadikan ladang pahala dalam menginfaqkan ilmu-ilmu Syari'ah. Hamba yang menunjukan kebaikan kepada orang lain maka dia juga akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukan kebaikan tersebut. Syukron :)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *