Related Articles

2 Comments

  1. 1

    Mbah Poer

    Ustadz..jika orang itu miskin dan punya hutang banyak…
    apakah masih wajib membayar fidyah yg sangat banyak itu ?
    Syukron

    Reply
    1. 1.1

      Ozzy el Hooda

      Jawaban :

      Apabila orang yang berkewajiban membayar Fidyah ternyata miskin atau banyak hutang, maka kewajiban Fidyah baginya tetap tidak gugur, akan tetapi tetap menjadi hutang baginya/ tanggungan baginya yang harus dibayar ketika sudah mampu.

      Perkataan Imam An Nawawi di dalam Al Majmuk memang menuntut bahwa yang Ashoh seharusnya kewajiban membayar Fidyah ini menjadi gugur bagi orang yang tidak mampu, sebab masalah ini sama dengan Zakat Fitrah, dimana ketika datang waktu kewajibannya dan saat itu belum ada kemampuan untuk membayarnya maka kewajiban tersebut menjadi gugur.

      Tapi pendapat tersebut di tolak, sebab tanggungan kepada Allah swt yang bersifat harta apabila belum bisa ditunaikan, maka tanggungan tetsebut tetap menjadi tanggungan sampai datangnya kemampuan.

      Maka, orang yang berkewajiban membayar Fidyah dan saat itu ia banyak hutang, maka kewajiban Fidyah tidak gugur baginya, sebab Fidyah juga hutang atau Hak Allah swt yang juga harus ditunaikan ketika mampu. (Zean Areev)

      اسني المطالب ج 1 ص 428
      (فَإِذَا عَجَزَ) عَنْ الْفِدْيَةِ (ثَبَتَتْ فِي ذِمَّتِهِ) كَالْكَفَّارَةِ وَكَالْقَضَاءِ فِي حَقِّ الْمَرِيضِ وَالْمُسَافِرِ هَذَا مَا اقْتَضَاهُ كَلَامُ الْأَصْلِ لَكِنْ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ الْأَصَحُّ هُنَا عَكْسَهُ كَالْفِطْرَةِ لِأَنَّهُ عَاجِزٌ حَالَ التَّكْلِيفِ بِالْفِدْيَةِ وَلَيْسَتْ فِي مُقَابَلَةِ جِنَايَةٍ وَنَحْوِهَا وَمَا بَحَثَهُ جَزَمَ بِهِ الْقَاضِي وَهُوَ مَرْدُودٌ بِمَا مَرَّ أَنَّ حَقَّ اللَّهِ تَعَالَى الْمَالِيَّ إذَا عَجَزَ عَنْهُ الْعَبْدُ وَقْتَ الْوُجُوبِ يَثْبُتُ فِي ذِمَّتِهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَى جِهَةِ الْبَدَلِ إذَا كَانَ بِسَبَبٍ مِنْهُ وَهُوَ هُنَا كَذَلِكَ إذْ سَبَبُهُ فِطْرُهُ بِخِلَافِ زَكَاةِ الْفِطْرِ، وَالتَّصْرِيحُ بِثُبُوتِ الْفِدْيَةِ فِي ذِمَّةِ الزَّمِنِ مِنْ زِيَادَةِ الْمُصَنِّفِ

      نهاية المحتاج ج 3 ص 193
       وَقَضِيَّةُ كَلَامِهِمَا أَنَّ مَنْ ذُكِرَ إذَا عَجَزَ عَنْ الْفِدْيَةِ ثَبَتَتْ فِي ذِمَّتِهِ كَالْكَفَّارَةِ وَهُوَ كَذَلِكَ، وَمَا بَحَثَهُ فِي الْمَجْمُوعِ مِنْ أَنَّهُ يَنْبَغِي هُنَا عَكْسُهُ كَالْفِطْرَةِ لِأَنَّهُ عَاجِزٌ حَالَ التَّكْلِيفِ بِالْفِدْيَةِ وَلَيْسَتْ فِي مُقَابَلَةِ جِنَايَةٍ وَنَحْوِهَا رُدَّ بِأَنَّ حَقَّ اللَّهِ تَعَالَى الْمَالِيَّ إذَا عَجَزَ عَنْهُ الْعَبْدُ وَقْتَ الْوُجُوبِ اسْتَقَرَّ فِي ذِمَّتِهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَى جِهَةِ الْبَدَلِ إذَا كَانَ بِسَبَبٍ مِنْهُ وَهُوَ هُنَا كَذَلِكَ إذْ سَبَبُهُ فِطْرُهُ بِخِلَافِ زَكَاةِ الْفِطْرِ

      (USTADZ ZEAN AREEV)

      Reply

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2017-2018 Nyantri Yuk | Pondok Pesantren Riyadhul Jannah Surakarta Asuhan Sayyidil Habib Alwi bin Ali Al Habsyi Solo.