Taubat Sumber Pembuka Hijab Antara Kita Dengan Allah Swt

Taubat

Kita senantiasa berada dalam dosa. Dosa-dosa itulah yang menjadi hijab antara kita dengan Allah swt. dan kerananya juga Allah swt akan memandang kita dengan penuh benci dan murka sehingga pada akhirnya kita akan terhijab dari seluruh rahmat dan kasih sayang-Nya, dan di Akhirat besok, Allah akan menghukum kita dengan Neraka yang maha dahsyat. Oleh sebab itu maka wajib atas kita untuk bertaubat dengan segera apabila telah melakukan dosa dan kesalahan.

Taubat artinya kembali merujuk kepada Allah swt. Berserah diri pada-Nya dengan hati penuh penyesalan yang sungguh-sungguh. Yakni kesal, sedih, dukacita serta rasa tidak atas dosa yang telah dilakaukannya. Hati terasa pecah-pecah bila mengingati dosa-dosa yang dilakukan itu. Memohon agar Allah swt mengampunkannya. Meminta agar Allah memandang dan memberinya dengan penuh kasih sayang.

Para sufi, yaitu paraulama’ yang sangat perhatian dengan urusan batin, memiliki konsepsi tersendiri tentang jalan menuju kepada Allah swt. Jalan ini merupakan latihan-latihan rohaniah (riyadhah) yang dilakukan secara bertahap dalam menempuh berbagai fase, yang dikenal dengan Maqamat (tingkatan-tingkatan) dan ahwal (keadaan-keadaan) kemudian berakhir dengan mengenal (ma’rifat) kepada Allah.

Kebanyakan para sufi menjadikan “taubat” sebagai fase awal di dalam menempuh jalan menuju Allah swt. Taubat agaknya diakui secara umum dalam pembahasan tasawuf sebagai maqam pertama yang harus dilalui dan dijalani oleh seorang salik/seorang hamba yang berjalan menuju Allah swt. Dikatakan oleh sebagian Sufi, Allah swt tidak mendekati seorang hamba sebelum ia bertaubat kepada-Nya. Oleh karenanya, hanya dengan taubat jiwa seorang salik akan menjadi bersih dari dosa, dan Allah swt pun dapat didekati olehnya.

Pada tingkat terendah, taubat menyangkut dosa yang dilakukan jasad atau anggota-anggota badan. Pada tingkat menengah, di samping menyangkut dosa yang dilakukan jasad, taubat menyangkut pula pangkal dosa-dosa, seperti dengki, sombong, dan riya. Pada tingkat yang lebih tinggi, taubat menyangkut usaha menjauhkan bujukan setan dan menyadarkan jiwa akan rasa bersalah. Pada tingkat terakhir, taubat berarti penyesalan atas kelengahan pikiran dalam mengingat Allah. Taubat pada tingkat ini adalah penolakan terhadap segala sesuatu yang dapat memalingkan dari jalan Allah.

Menurut Dzun Nun al-Mishri, taubat dibedakan atas dua macam, yaitu taubat “Awam”/orang-orang Umum dan taubat “khawas”/ taubatnya orang-orang Khusus. Orang awam bartaubat dari dosa-dosa yang nampak pada diri mereka, dan orang-orang Khusus bertaubat karena kelalaian (dari mengingat Tuhan) dalam waktu-waktunya.

Dzu Nun Al-Mishri berkata: “Taubat orang awam adalah taubat dari dosanya; taubat orang terpilih/khusus adalah taubat dari kekhilafannya; taubat para nabi adalah taubat dari kesadaran mereka akan ketidak mampuan mereka mencapai apa yang telah dicapai orang lain.” Al-Nuri berkata: “Taubat berarti bahwa engkau harus berpaling dari segala sesuatu kecuali Tuhan.” Ibrahim al-Daqqaq berkata: “Taubat berarti bahwa engkau harus menghadap Tuhan tanpa berbalik lagi, bahkan jika sebelumnya engkau telah berbalik dari Tuhan tanpa menghadap kembali

Al-Junaidi mengatakan bahwa taubat ialah karena “engkau melupakan dosamu”. Ruwaim berkata: “Arti taubat adalah bahwa engkau harus bertaubat atas taubat itu.” Arti ini mirip dengan yang dikatakan oleh Rabi’ah: “Aku memohon ampun kepada Tuhan karena ketidak-tulusan dalam berbicara; aku mohon ampun kepada Tuhan.” Al-Husain al-Maghazili, ketika ditanya mengenai taubat, ia berkata: “Apakah yang engkau tanyakan, mengenai taubat peralihan, atau taubat tanggapan?” Yang lain berkata: “Apakah arti taubat peralihan itu?” Ruwaim menjawab: “Bahwa engkau harus takut kepada Tuhan karena kekuasaan-Nya atas dirimu.” Yang lain bertanya: “Dan apakah taubat tanggapan itu?” Ruwaim menyahut: “Bahwa engkau harus malu kepada Tuhan karena Dia ada di dekatmu.”

Lebih lanjut, Dzun Nun Al-Mishri membedakan taubat atas tiga tingkatan, yaitu:

  1. Orang yang bertaubat dari dosa dan keburukannya.
  2. Orang yang bertaubat dari kelalaian dan kealfaan mengingat Allah.
  3. Orang yang bertaubat karena memandang kebaikan dan ketaatannya.

Pembagian taubat atas tiga tingkatan ini agaknya tidak harus dilihat sebagai keterangan yang bertentangan dengan apa yang telah disebut di atas. Pada pembagian ini, Dzun Nun membagi lagi orang khawas menjadi dua bagian sehingga jenis taubat dibedakan atas tiga macam.

Orang-orang Khusus ghaflah (terlena mengingat Tuhan) sebagai perbuatan yang tercela. Menurut mereka Ghaflah itulah dosa yang mematikan. Ghaflah adalah sumber munculnya segala dosa.

Ingin bertanya permasalahan Agama? Kirimkan pertanyaan Anda kepada Tim Asatidz Tafaqquh Nyantri Yuk, klik http://tanya.nyantriyuk.id

BERBAGI YUK!
  •   
  • 17
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Silahkan disukai dan dibagikan, insya Allah bernilai ibadah, dan jadikan ladang pahala dalam menginfaqkan ilmu-ilmu Syari'ah. Hamba yang menunjukan kebaikan kepada orang lain maka dia juga akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukan kebaikan tersebut. Syukron :)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *